FLORESPOS.ID – Setelah mengungkap kasus dugaan korupsi kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya, penyidik Kejaksanaan Tinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur mendapat ancaman.

Ancaman tersebut datang dari oknum tidak bertanggung jawab dengan tujuan tertentu terkait korupsi senilai Rp 149 miliar tersebut.

Bahkan secara terbuka, ancaman terhadap penyidik itu datang melalui surat terbuka yang dikirim ke kantor Kejati NTT di Kupang.

Demikian disampaikan Kepala Kejati NTT Yulianto saat menggelar jumpa pers di Kantor Kejati NTT, Kamis (25/6) siang.

“Ini terkait kasus yang sedang kami tangani. Soal siapa oknum yang mengancam, biar menjadi konsumsi sendiri,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab penuh terhadap kasus yang sedang ditangani, yaitu perkara kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya tersebut. Apapun risikonya, mereka akan hadapi.

Yulianto menyebutkan bahwa sampai saat ini sudah ada tujuh debitur yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni YRS, SK, SS, LML, WK, MR, dan IN. Dua diantaranya sudah ditahan, yaitu YRS dan SK.

Ia menjelaskan bahwa dalam kasus kredit macet tersebut, jumlah kredit yang diajukan tujuh debitur sebesar Rp149 miliar. Dari jumlah itu, Rp126 miliar merupakan kredit macet.

Dengan demikian, estimasi kerugian negara dalam perkara tersebut mencapai Rp126 miliar.

“Estimai kerugian negara sementara mencapai Rp126 miliar dari Rp149 miliar yang diajukan kredit modal kerja dan kredit investasi,” terang Yulianto.

Sebelumnya, Kejati NTT menyita Rp9,5 miliar uang milik salah satu tersangka berinisial MR pada Bank BNI Cabang Cibinong, Jawa Barat.

Berdasarkan penyidikan, MR telah menerima kucuran nilai kredit sebesar Rp40 miliar. Kredit macet MR menyebabkan kerugian negara atau kerugian daerah sebesar Rp38 miliar.

Satu tersangka lainnnya, YRS, pun telah ditahan pada 18 Juni lalu. YRS mengajukan pinjaman modal kerja sebesar Rp44 miliar dan kredit investasi jangka panjang sebesar Rp5 miliar.

Saat ini, para tersangka lain sedang diburu tim penyidik Kejati NTT. Meski diancam, Kejati NTT akan bekerja profesional demi mengungkap kejahatan korupsi dalam kasus ini.*