Polisi Tembak Warga, IPW Sebut Tuduhan Pembunuhan Berencana Prematur

Florespos.id – Kasus penembakan warga sipil bernama Elkana Konis pada Tahun 2013 kembali menyita perhatian publik.

Pasalnya, usai kasus penembakan itu, proses hukum terhadap pelaku penembakan masih belum maksimal.

Diduga kuat terjadi proses hukum yang tidak profesional di tubuh kepolisian, terutama Polda NTT dan Polres Kota Kupang.

Karena itu, Indonesian Police Watch (IPW) mendesak kepolisian terkhusus Polda NTT dan Polres Kupang menjelaskan secara terbuka tentang kasus penembakan warga sipil bernama Elakana Konis di Kabupaten Kupang pada Tahun 2013 silam.

BacaNajwa Shihab Disebut Sidak Ruang Tahanan Ferdy Sambo, Temukan Ruang Kosong

Desak Polda dan Polres Kota Kupang Jelaskan Secara Terbuka

Ketua Indonesian Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, secara tegas mendesak agar Polda NTT dan Polres Kota Kupang Tra kepada media ini melalui sambungan telepon, Rabu 20/12.

“Pertama tama IPW menyampaikan duka cita terkait matinya korbAn elkana Konis pada 2013 tsb yg sebab matinya diduga terkena tembakan. Terkait telah dihentikannya proses penyidikan perkara tersebut Polisi harus transparan menjelaskan alasan SP3 perkara tersebut,” ujar Sugeng Teguh Santoso, Ketua IPW kepada media ini melalui sambungan telepon, Rabu 20/12.

Desak Polda dan Polres Kota Kupang Jelaskan Secara Terbuka
Foto: Doc/Florespos

Baca: Muka Mirip Ferdy Sambo, Boris Bokir Diangkat Jadi Kepala Divisi Problem

Menurut Sugeng, proses penyelidikan/penyidikan memang harus bermuara pada kepastian hukum dinyatakan P21 dan selanjutnya diajukan ke pengadilan atau dihentikan.

Semuanya harus dijelaskan.

“IPW telah mencari informasi terkait dengan peristiwa 2013 yg menimbulkan korban elkana Konis, dari Data dan Informasi yg dapat kami peroleh memang matinya korban terkait adanya luka tembakan akan tetapi memang disayangkan tidak ditemukan proyektil peluru yang dapat dijadikan barang bukti, hal mana sulit untuk menentukan jenis senjata,” ujar Sugeng.

Tuduhan Pembunuhan Berencana; Prematur

“Dari data dan informasi yang diperoleh, memang matinya korban itu ada luka tembakan. Akan tetapi memang disayangkan tidak ditemukan proyektil peluru yang dapat dijadikan barang bukti, yang mana sulit untuk menentukan jenis senjata,” terangnya.

Dia menerangkan, tuduhan terhadap Kabid Propam Polda NTT, yang menjabat saat itu sebagai Kapolres Kupang, dan dimintai pertanggungjawaban atas kasus tersebut dinilai tidak memiliki dasar serta memiliki logika melompat.

“Apalagi tuduhan merintangi penyidikan adalah tidak berdasar. Semua proses hukum tentu harus profesional dan proporsional agar dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Tuduhan Pembunuhan Berencana; Prematur
Foto: Doc/Florespos

BacaNama Pramugari Cantik, Cicilia Pinontoan Terseret dalam Kasus Ferdy Sambo

Sugeng menegaskan, penetapan tersangka dalam kasus dugaan penembakan Elkana Konis harus terlebih dahulu mengungkap barang bukti berupa proyektil peluru.

“Ini yang harus didalami dan dijadikan barang bukti. Karena tuduhan pembunuhan berencana sangat prematur sebelum diketahui proyektil peluru dan jenis senjata yang digunakan,” terangnya.

Kronologis

Kasus penembakan warga sipil bernama Elkana Konis pada Tahun 2013 kembali menyita perhatian publik.

Pasalnya, kasus yang sudah lama redup ini kembali mencuaty dan menyeret nama petinggi polisi di Polda NTT.

Dari sejumlah pemberitaan media, terkait kasus penembakan terhadap Elkana Konis,pihak keluarga menjelaskan, Elkana tewas ditembak saat berburu di hutan Sabaat, Desa Oelpuah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT.

Sementara itu, anak kandung korban, Ferdinan Konis (36) menyebut, sebelum ditemukan tewas di hutan tersebut, ayahnya, Elkana Konis mendapat telepon dari pelaku, YL yang mengajaknya pergi berburu rusa di hutan.

Menurutnya, sesaat kemudian, keluarga mendengar bunyi tembakan.
“Itu terjadi pada tanggal 25 Desember 2013. Awalnya pelaku itu telepon ke bapak untuk berburu rusa ke tempat yang pernah mereka berburu. Sekitar 1-2 jam kemudian, kami mendengar ada bunyi tembakan,” ujar Ferdinan.

Dia mengatakan bahwa setelah mendengar suara tembakan itu, YL tiba-tiba pulang dari hutan menuju mobil yang diparkir di depan rumah korban.

“Kebetulan saat itu dia parkir mobilnya di depan rumah kami, sehingga saya pergi jemput dan saya tanyakan ke dia: ‘tidak tembak lagi?’ Tetapi om YL tidak menjawab, lalu dia ambil senjata yang dibawanya langsung kabur dengan mobilnya,” katanya.

Kronologis
Foto: Doc/Florespos

Baca: Agama ‘Wanita Simpanan’ Ferdy Sambo Jadi Sorotan

Meski mendengar bunyi tembakan, Ferdinan sama sekali tidak menaruh curiga dengan YL pun tidak mempunyai firasat buruk tentang peristiwa yang menimpa ayahnya.

Kekhawatiran Ferdinan mulai muncul setelah sekitar pukul 16.00 Wita, sang ayah belum juga pulang.

Padahal, Ia sudah berburu sejak pagi hari.

Ferdinan pun menelepon YL dan menanyakan keberadaan sang ayah.

saja bilang hari ini dia tidak pergi berburu. Padahal dia yang telepon Bapak untuk pergi berburu. Selanjutnya kami melakukan pencarian di TKP selama tiga hari dan saat ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia, tepatnya tanggal 27 Desember 2013 siang.

Kami lihat bapak mengalami luka tembakan pada bagian belakang dan tembus bagian dada sehingga tulang rusuk patah,” kisah Ferdinan.

Setelah menemukan jasad sang ayah, Ferdinan dan keluarga langsung membawanya ke di Rumah Sakit Bhayangkara Titus Ully Kupang untuk divisum dan diautopsi.

Hasil autopsi menerangkan bahwa korban meninggal akibat terkena tembakan dua kali dengan jarak tembakan sekitar 30 meter.

Korban juga disebut mendapat penganiayaan, sehingga mengalami luka robek di sekujur tubuh.

“Jenazah bapak, kami bawa ke RS untuk autopsi dan sesuai hasilnya, benar bapak ditembak sebanyak dua kali dengan jarak sekitar 30 meter dan dianiaya sehingga banyak luka robek pada badan,” jelas Ferdinan.

Disampaikan Ferdian bahwa kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polsek Kupang Tengah dan Polres Kupang sesaat setelah penumuan Jasad sang ayah pada 2013 silam.