FLORESPOS.ID – Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Flores sepanjang pekan ini.

Ada enam kabupaten yang menjadi target kunker Gubernur VBL bersama rombongan yang sekiranya berjumlah 24 orang.

Diantaranya Kabupaten Manggarai Barat, Mangarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo dan Ende. Di tiap kabupaten, VBL akan bertemu dengan para Bupati dan jajarannya.

Dari keterangan resmi yang diterbitkan Biro Humas Setda NTT belum diketahui agenda kunker untuk masing-masing daerah.

Namun yang pasti, tiap kabupaten memiliki masalah tersendiri yang harus dibahas bersama antara Gubernur dengan para Bupati.

Kunjungan dimulai di Mabar pada Senin, awal pekan ini. Di Labuan Bajo, ibukota kabupaten di ujung barat Pulau Flores itu, VBL bertemu dnegan Bupati Agustinus Ch. Dulla dan jajarannya.

Selain itu, untuk melepas penat VBL melakukan perjalanan wisata ke Pulau Padar dan beberapa tempat wisata lainnya, seperti Cunca Wulang di Kecamatan Mbeliling, Mabar.

Beranjak dari Mabar, VBL dan rombongan menuju Kabupaten Manggarai dan bertemu dengan para petinggi di daerah itu pada Selasa (23/6) kemarin. Salah satunya bertemu dengan Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, petinggi gereja setempat.

Victor: Pemprov Tidak Mau Gegabah Soal Tambang di Matim

Sejauh ini, Uskup Ruteng adalah salah satu petinggi Gereja Katolik lokal yang telah berpendirian untuk ikut menolak pembangunan pabrik semen dan tambang batu gamping di Kabupaten Manggarai Timur, salah satu dekenat di bawah Keuskupan Ruteng.

Beberapa waktu lalu, sebagai simbol penolakan terhadap investasi tambang, Uskup Ruteng mengadakan misa ekologis di kampung atau tempat yang akan menjadi lahan penambangan: Lingko Lolok, Desa Satara Punda, Kec. Lambaleda, Kamis (11/6).

Pertemuan dan kehadiran VBL di Ruteng kemarin menjadi momen paling penting bagi kedua lembaga, yaitu Gereja dan Pemerintah, untuk duduk bersama menyoal investasi tambang tersebut.

Di hadapan Uskup Ruteng, VBL mengatakan bahwa Pemprov NTT tidak mau gegabah menyikapi rencana investasi tambang gamping dan pabrik semen di dua kampung di Matim.

VBL mengaku pihaknya akan melakukan kalkulasi cermat untuk memilih investasi yang lebih menguntungkan bagi masa depan NTT.

“Kita akan berhitung secara cermat. Tentunya ketika ada dua kepentingan yang berseberangan, kita akan berhitung betul. Yang mana yang akan menguntungkan Nusa Tenggara Timur ke depan,” kata VBL usai bertemu Uskup Ruteng di Aula Missio Universitas Katolik St. Paulus Ruteng, Selasa (23/6), melansir mediaindonesia.

VBL mengakui bahwa Gereja merupakan salah satu pioner dalam pembangunan di NTT. Karena itu, dukungan Gereja terhadap proyek pembangunan menjadi sangat penting di NTT.

Secara pribadi, VBL tidak mau bertentangan dengan Gereja. Karena ia yakin bahwa sikap Gereja selalu merupakan representasi rakyat. Jika bertolak belakang, maka pembangunan di NTT jadi pincang.

“Gubernur NTT akan mati kartunya jika Gereja berbeda dengan Gubernur. Itu langsung pincang. Jadi kalau dengar bapak Uskup sudah berbeda dengan Gubernur, ligamen Gubernur putus. Itu jalan pun sudah setengah mati,” pungkas VBL.

Karena itu, sebagai pimpinan daeran, VBL akan mempertimbangkan dan memilih hal-hal yang menguntungkan secara ekonomi, sosial, budaya, dan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

Uskup Ruteng: Fokus di Pertanian dan Pariwisata

Dalam sambutannya di hadapan para petinggi daerah, gereja dan tokoh masyarakat di Aula Missio Unika Ruteng, VBL mengatakan akan fokus pada pengembangan potensi pertanian, kelautan, peternakan, dan pariwisata di NTT.

Hal itu mendapat dukungan besar dari Uskup Ruteng yang mendorong Pemprov NTT fokus pada dua sektor kunci di NTT, yaitu pembangunan di sektor pariwisata dan pertanian.

Untuk sektor pariwisata, Uskup Ruteng meminta agar pengembangan sektor pariwisata memperhatikan partisipasi masyarakat lokal, integrasi nilai kultural dan spiritual, serta pelestarian lingkungan alam.

“Kami mendukung pengembangan pariwisata demi kesejahteraan manusia yang utuh dan terintegrasi dengan keutuhan ciptaan. Karena itu, pariwisata tidak boleh hanya berorientasi pada kesejahteraan ekonomi,” ujar Mgr. Sipri.

Mgr. Sipri mengapresiasi sikap Gubernur VBL yang telah mengambilalih pengelolaan Pantai Pede di Labuan Bajo untuk dijadikan ruang terbuka yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Sementara untuk sektor pertanian, Mgr. Sipri meminta agar Gubernur VBL menjadikan pertanian sebagai pusat perhatian.

Sebab menurut Mgr. Sipri, sektor pertanian menjadi mata pencaharian utama masyarakat NTT.

Pembangunan sarana sumber air bagi pertanian seperti bendungan, waduk, dan sumur bor, karenanya sangat diperlukan.

Tidak hanya pertanian modern yang perlu ditingkatkan, Mgr. Sipri juga meminta Pemprov NTT juga melakukan diversifikasi dan ekstensifikasi dengan menggarap pertanian organik.

Sebab model pertanian ini mendatangkan hasil ekonomis yang berkelanjutan, berwawasan ekologis, dan mendukung kesehatan.

Demi meningkatkan kualitas SDM yang mumpuni di bidang pertanian, Mgr. Sipri pun berharap agar Pemprov NTT menyediakan sarana dan pelatihan ketrampilan pengolahan pascapanen.*

Sumber: Media Indonesia