FLORESPOS.ID – Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat pada Rabu (24/6) kemarin menyambangi lokasi tambang batu gamping dan pabrik semen di Luwuk dan Lingko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur.

Kunjungan itu dilakukan selama kurang lebih setengah jam sebelum Gubernur VBL dan rombongan bergerak menuju Pota di Kecamatan Sambi Rampas, masih di Kabupaten Matim.

Kunjungan ke lokasi tambang itu setelah pertemuan dengan Bupati Manggarai, Pimpinan OPD dan para tenaga medis di Reok, menurut keterangan resmi dari Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Valeri Guru.

Di Luwuk, VBL bertemu dengan warga setempat dan menanyakan perihal situasi terkait rencana penambangan dan pabrik semen.

Salah seorang warga, Klemens Salbin, seperti dilaporkan TIMEX Kupang mengatakan bahwa mayoritas warga menyetujui rencana investasi tersebut. Dari 105 pemilik lahan, ada 103 pemilik yang setuju, sedangkan 2 pemilik (KK) menolak.

Klemens menambahkan, warga setempat tidak terpengaruh dengan sikap pro dan kontra yang muncul secara kuat belakangan ini, termasuk juga desakan dari pihak luar.

VBL kepada Agas: Lanjutkan!

Usai bertemu warga di lokasi tambang, VBL dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Pota, di Kecamatan Sambi Rampas.

Dalam sebuah sambutan pada kegiatan Penanaman Jagung dan Bawang secara Simbolis di Pota, Kamis (25/6), VBL meminta Bupati Matim Agas Andreas melanjutkan rencana investasi tersebut.

VBL berkeyakinan bahwa jika kehadiran pabrik semen berjalan dengan baik, maka Kabupaten Manggarai Timur memiliki pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.

“Saya dengar Pak Bupati, akan dapat sekitar 80 miliar hanya untuk PAD, saya bilang wao, itu si luar biasa. Itu hanya untuk PAD saja apalagi tenaga kerja dan lain-lain,” katanya, mengutip Pos Kupang.

Meski demikian, VBL tetap meminta agar Bupati Agas mengawal AMDAL dalam proyek tersebut dengan ketat.

“Karena itu saya minta kepada Bapak Bupati untuk proses berlanjut, sambil kita kawal seluruh AMDAL-nya. Setelah semuanya selesai, saya harapkan pabrik semen itu bisa berjalan,” ujar VBL.

Selebihnya, VBL meminta kepada publik, baik yang pro maupun kontra untuk ikut terlibat dalam proses AMDAL tersebut.

“Karena itu kita semua yang pro dan kontra ikut terlibat mejaga agar AMDALnya bisa berjalan dengan baik,” ucapnya.

Mengapa proses AMDAL ini penting, menurut VBL, karena hal itu akan menganalisa semua hal terkait proyek itu. Jika AMDAL baik, maka Pemprov NTT akan melanjutkan proyek tersebut.

Sementara saat ini, investor baru pada tahap pembelian tanah. Pada tahap selanjutnya akan dilanjutkan dengan proses AMDAL.

“Kita periksa lagi bagaimana cara kerjanya kalau ternyata bagus ya, kita tidak boleh melarang kalau hal-hal bagus, kalau tidak bagus AMDAL-nya tidak sesuai dan menghancurkan, jangan. Tapi AMDAL-nya jalan baik masa kita larang orang datang bawa rejeki,” katanya.

Yang juga penting dari rencana pembangunan pabrik semen di Matim adalah karena NTT masih kekurangan semen. Di mana, NTT membutuhkan sekitar 800 ribu ton dari total 1,1 juta ton per tahun.

“PT Semen Kupang baru bisa kasih kita 250 ribu ton, maka kita kurang masih 800 ribu ton/tahun, kita kurang dan kita datangkan dari pulau Jawa,” terang VBL.

Di Hadapan Uskup Ruteng, VBL: Pemprov Tidak Mau Gegabah Soal Tambang di Matim
Gubernur VBL bertemu dengan Uskup Ruteng di Ruteng, Selasa (23/6). Foto/Komsos Keuskupan Ruten.

VBL: Belum Dilanjutkan

Sebelumnya, dalam rapat dengar pendapat dengan tiga fraksi DPRD NTT yang menolak tambang: Fraksi PAN, PKB dan Hanura, VBL mengatakan bahwa proses perizinan tambang di Matim belum dilanjutkan. Artinya, untuk sementara dihentikan.

Hal itu disampaikan untuk menanggapi pandangan tiga fraksi DPRD NTT yang secara keras menolak rencana investasi tambang batu gamping dan pabrik semen di Luwuk dan Lingko Lolok.

Sementara itu, kepada Uskup Ruteng dan pimpinan daerah, kampus dan masyarakat di Kabupaten Manggarai baru-baru ini, VBL mengatakan tidak gegabah dalam mengurus proyek tersebut.

Pemprov NTT, kata dia, akan menghitung secara cermat keuntungan yang akan didapatkan dari investasi tersebut.

VBL dalam kesempatan sambutan di Aula Missio Universitas Katolik Ruteng, Selasa (23/6), itu mengatakan akan fokus pada sektor pertanian dan pariwisata, peternakan dan kelautan.

Hal itu disambut dan didukung oleh Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, yang sejauh ini cukup terlibat dalam polemik investasi tambang dan batu gamping di Matim, wilayah keuskupannya.

Dalam kesempatan itu, Uskup Ruteng secara eksplisit menganjurkan agar Pemprov NTT mulai berbenah mengurus tata kelola pembangunan dengan tidak lagi bergantung pada investasi tambang, melainkan pada investasi berwawasan ekologis.

Terkait proyek ini, tampak bahwa komitmen VBL terhadap pembangunan berbasis lingkungan semrawut dan tergesa-gesa.

Selain plin-plan, VBL juga tidak memberdayakan sumber daya lokal untuk membangun NTT, tapi seperti di daerah lain, tetap bergantung pada investasi ekstraktif berupa tambang, yang menurut pegiat lingkungan selalu menimbulkan masalah struktural.*