FLORESPOS.ID – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu daerah dengan jumlah kasus virus corona terendah di Indonesia setelah Aceh, menurut data Gugus Tugas Nasional.

Data yang dihimpun Gugus Tugas Pusat hingga Rabu (24/6), menyebutkan bahwa Provinsi NTT memiliki 111 kasus positif, 40 sembuh dan 1 orang meninggal.

Jumlah ini sedikit berbeda, dalam hal ini soal real-time pelaporan, di mana menurut Gugus Tugas NTT, provinsi kepulauan ini sudah memiliki 112 kasus, 77 sembuh, 1 meninggal dan 34 dirawat.

Ini Alasan NTT Rendah Covid-19

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 NTT Marius Ardu Jelamu mengungkapkan penyebab mengapa NTT termasuk salah satu provinsi yang dianggap cukup berhasil menangani wabah ini.

Dalam dialog interaktif melalui layanan streaming Youtube BNPB Indonesia bertajuk “Zona Risiko Rendah: Mempertahankan Status Quo?”, Kamis (25/6), pagi, Ardu Jelamu mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah respon Pemprov NTT terhadap pandemi.

“Sejak ditemukan kasus tertular virus corona di Depok (Jawa Barat), kan Bapak Gubernur (Victor Bungtilu Laiskodat) dan kami semua sudah antisipasi,” katanya, melansir Tempo.co.

Ia mengatakan, setelah Gugus Tugas Covid-19 NTT dibentuk pada Maret lalu, Gubernur VBL melarang perjalanan keluar daerah bagi aparatur sipil negara, meski NTT belum terpapar.

Selain itu, Pemprov NTT dan Gugus Tugas NTT juga gencar melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menerapkan protokol kesehatan.

Misalnya anjuran untuk selalu menggunakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun.

Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, Pemprov NTT tidak hanya mengedukasi masyarakat melalui layanan informasi media mainstream seperti televisi ata radio, tapi juga melalui media sosial.

“Sosialisasi kami pagi dan malam. Jadi setiap hari kami rilis pers secara publik melalui TV, radio, Facebook sehingga masyarakat mengikuti. Jadi edukasi kita lakukan berkali-kali,” katanya.

Selanjutnya, kata Ardu Jelamu, Pemprov NTT juga mengerahkan perangkat birokrasi daerah hingga ke tingkat rukun tetangga (RT) untuk mengawasi secara ketat orang yang keluar masuk wilayahnya.

Jika ditemukan ada warga baru memasuki wilayah NTT, maka diminta melakukan isolasi mandiri selama dua minggu.

Tidak jarang, masyarakat di tiap kabupaten melakukan pembatasan wilayah antarkabupaten dengan memblokir jalan di perbatasan.

Lebih dari itu, Pemprov NTT juga menyadari bahwa peran tokoh agama di NTT cukup penting di masyarakat.

Para tokoh agama, seperti imam masjid, pastor hingga pendeta, secara rutin mengingatkan umatnya untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Gereja-gereja di NTT pun mengikuti protokol kesehatan untuk tidak mengadakan misa, seperti anjuran KWI.

Di samping itu, Ardu Jelamu mengapresiasi tingkat kesadaran masyarakat NTT dalam mengantisipasi bahaya wabah ini.

Di mana masyarakat pada umumnya konsisten dalam menerapkan protokol kesehatan ketika berada di luar.

Kasus Pertama Ditemukan pada April

Diketahui, kasus positif Covid-19 di NTT pertama kali ditemukan pada April lalu dengan pasien pertama merupakan ASN di Alor.

Ardu Jelamu menerangkan bahwa, mayoritas kasus di NTT merupakan kasus impor, di mana pasien-pasien tersebut melakukan perjalanan dari luar NTT, misalnya dari Jakarta, Bali, Jawa pada umumnya dan dari beberapa klaster lain seperti Gowa.

Sementara kasus dari transmisi lokal hanya beberapa dari ratusan kasus yang ada di NTT saat ini.

Ketika NTT memasuki era “new normal” mulai 15 Juni lalu, kata Ardu Jelamu, kasus di NTT mulai melambat.

Di mana selama lima hari belakangan NTT nihil kasus baru, sedangkan jumlah kesembuhan makin bertambah.

“Penanganan begitu bagus, sehingga hampir 80 persen sembuh,” katanya, melansir Merdeka.*