FLORESPOS.IDAliansi Mahasiswa Manggarai Raya (AMMARA) Kupang menilai Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat (VBL) tidak konsisten terhadap komitmen dan janjinya untuk menghentikan sementara segala bentuk perizinan tambang di NTT.

Dalam aksi tolak tambang di Kantor Gubernur NTT dan Kantor DPRD NTT, Senin (29/6), AMMARA Kupang menilai bahwa Gubernur VBL telah melakukan pembohongan publik dengan berbagai pernyataan tentang tolak tambang baik di masa kampanye maupun setelah terpilih menjadi Gubernur NTT.

Koordinator Lapangan( Korlap) AMMARA Kupang Alviano Latu meminta agar Gubernur VBL memiliki sikap yang jelas dalam agenda pembangunan di NTT dan tidak terus-menerus berubah sikap, apalagi membohongi publik.

Latu mencontohkan, dalam kunjungan ke Manggarai Raya pada pekan lalu, Gubernur VBL menekankan bahwa pembangunan di NTT mengandalkan empat potensi utama di NTT, yaitu sektor pertanian, kelautan, peternakan dan pariwisata.

Namun ketika berbicara di hadapan para tokoh agama yang diketahuinya menolak rencana tambang dan pabrik semen, VBL sama sekali tidak menyebut tambang sebagai sektor andalan.

Berbicara secara terpisah di tempat lain, justru VBL mengeluarkan pernyataan mendukung kehadiran tambang.

Latu menambahkan bahwa dalam janji-janji politiknya, VBL tidak akan menjadikan NTT sebagai daerah untuk tambang.

Tapi, itu ternyata hanya pemanis bibir untuk meraih dukungan politik. Setelah menang, ia dengan mudah melupakannya.

Mahasiswa NTT Demo di Jakarta

Dalam waktu yang bersamaan, selain melakukan aksi demo di Kupang, para mahasiswa dan pemuda asal NTT di Jakarta juga menggelar demo pada Senin (29/6) kemarin.

Misi utama yang disampaikan mahasiswa yakni penolakan terhadap izin tambang dan pabrik semen di Kabupaten Manggarai Timur.

Di Jakarta, aksi demo diinisiasi Forum Pemuda NTT Jabodetabek. Mereka mendatangi Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Dalam aksi tersebut, mereka meminta pemerintah pusat membatalkan rencana memberi izin bagi PT Istindo Mitra Manggarai (PT IMM) untuk menambang batu gamping dan PT Semen Singa Merah NTT (PT SSM) yang akan mendirikan pabrik semen.

Kedua perusahaan ini rencananya akan beroperasi di Kampung Lingko Lolok dan Luwuk, di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.

Dalam aksi di Jakarta mereka membawa sejumlah spanduk yang berisi desakan agar pemerintah tidak memaksakan tambang di Pulau Flores mengingat daerah itu rawan krisis air dan lokasi izin merupakan wilayah karst.

Beberapa spanduk diantaranya berisi tulisan: “Tolak Tambag di Bumi Matim & Flores,” dan “NTT Butuh Pangan dan Air, Bukan Tambang dan Pabrik Semen.”

Ada juga yang membawa spanduk bertuliskan: “Kutuk JP” yang merujuk pada janji palsu pemerintah provinsi NTT untuk tidak membuka keran bagi investasi tambang.

Sebelumnya, ketika mengunjungi masyarakat di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, pekan lalu, aktivis tolak tambang dari PMKRI Cabang Ruteng dan GMNI menghadang Gubernur VBL dalam perjalanannya menuju wilayah tersebut.

Sebelum dihentikan aparat keamanan, sejumlah mahasiswa tampak memboikot jalan yang akan dilewati Gubernur VBL dan rombongan.

Dalam demontrasi itu, mereka meminta Gubernur NTT menghentikan rencana penambangan di Matim. (dari berbagai sumber).*