FLORESPOS.ID – Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) boleh berbangga karena dua badan usaha milik desa (BumDes) di provinsi tersebut masuk nominasi 10 besar desa terbaik nasional.

Keduanya adalah BumDes Au Wula di Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, dan BumDes 7 Maret milik Desa Hadekewa di Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata.

Dinominasikan kedua BumDes ini sebagai desa terbaik lantaran inovasi digital yang diciptakan untuk menyediakan market place berbasis digital dalam memasarkan produk petani dan nelayan.

Melalui BumDes Au Wula di Detusoko Barat Kepala Desa Ferdinandus Nando Watu menggagas program “Dapur Kita” (Desa mendukung Kota) untuk memasarkan produk pertanian masyarakat.

Sementara itu, melalui BumDes 7 Maret Kepala Desa Klemens Kwaman menggagas market place untuk memasarkan produk ikan teri Hadekewa milik masyarakat desanya.

Kepala Desa dari kedua desa dari NTT ini akan diwawancarai langsung Presiden Joko Widodo pada 1 Juli 2020 mendatang.

Berbicara kepada Merdeka.com, Klemens mengatakan bahwa BumDes 7 Maret yang berfungsi untuk mempromosikan produk ikan teri Hadekewa kini sudah memiliki pelanggan dari Jakarta.

Beberapa waktu lalu, kata dia, pengusaha dari ibukota tersebut sudah melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan BumDes 7 Maret.

“Akhir-akhir ini juga kita menggunakan market place jadi prodak kita sudah dikenal. Terakhir kemarin kita MoU dengan salah satu pengusaha di Jakarta, mereka jatuh cinta dengan ikan teri Hadekewa katanya punya rasa yang unik,” ungkapnya.

Sementara itu, Nando Watu, kepala desa penggagas program “Dapur Kita” kepada Ekora NTT beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa program tersebut merupakan salah terobosan yang diciptakan untuk membantu masyarakat selama masa krisis pandemi virus corona.

Program ini telah dikolaborasikan dengan Keuskupan Agung Ende (KAE) untuk membantu petani dengan memasarkan produk petani secara online dengan harga terjangkau sesuai pasaran, yaitu Rp75.000/paket.

“Inisiatif ini berangkat dari situasi sulit yang dialami oleh para petani hortikultura dalam measarkan produk-produk pertanian mereka dengan akses pasar yang mulai terbatas,” kata Nando.

Sebelumnya, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar, berharap agar dari 12.115 BumDes yang sudah terbentuk saat ini, dapat menyediakan situs online agar membantu BUMDes lebih berkembang dan produktif.

“Melalui situs online yang kita sediakan ini, masyarakat dapat melihat produk-produk desa yang tidak kalah kualitasnya dengan produk-produk di kota,” katanya, Rabu (20/6) lalu.

Dia mengatakan, digalakannya program tersebut bertujuan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi desa, dan mendorong terbangunnya ekonomi lokal desa berbasis produksi.

Menurutnya, e-commerce adalah platform yang dapat memaksimalkan produk dan potensi desa.

Pemanfaatan sistem digital ini dapat menjadi terobosan baru desa-desa di Indonesia untuk meningkatkan akses informasi, jaringan pasar, dan produktivitas desa.*