LABUANBAJO, FLORESPOS.ID – Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, telah resmi dikelola Konsorsium PT Cardig Aero Services Tbk, Changi Airports International Pte Ltd, dan Changi Airports MENA Pte Ltd selama 25 tahun mulai Mei tahun ini.

Konsorsium ini diketahui akan menginvestasikan dana Rp1,23 triliun untuk pengembangan bandara di destinasi pariwisata super premium tersebut. Mulai pertengahan tahun ini, Bandara yang terletak di ujung barat Pulau Flores ini akan berstatus internasional.

Status bandara internasional memungkinkan Bandara Komodo menerima penerbangan langsung dari luar negeri. Misalnya, penerbangan dari Singapura, Tiongkok, Jepang, dan negara lainnya sehingga daya tarik pariwisata di kawasan ini makin berkembang.

Dari kesepakatan pengelolaan oleh konsorsium asing tersebut, setidaknya ada lima fakta terbaru tentang Bandara Komodo:

1. Konsorsium Changi menyisihkan empat pesaingnya dalam lelang tender yang dilaksanakan akhir tahun lalu. Antara lain, Konsorsium Angkasa Pura II, Konsorsium PT Astra Nusa Persada, Konsorsium PT Interport Mandiri Utama; dan Konsorsium Angkasa Pura I.

2. Bandara Komodo saat ini memiliki landas pacu sepanjang 2.250×45 meter. Landas pacu ini akan diperpanjang hingga 2.750 meter sehingga pesawat besar seperti Airbus 320 bisa mendarat di bandara ini.

3. Konsorsium Cardig akan memperluas apron bandara tersebut menjadi 20.200 meter persegi, membangun terminal penumpang domestik seluas 6.500 meter persegi, terminal penumpang internasional seluas 5.538 meter persegi, dan terminal kargo 2.860 meter persegi.

4. Kapasitas penumpang Bandara Komodo pada 2019 mencapai 1,5 juta penumpang dan tahun ini diperkirakan bisa melayani 2 juta penumpang. Kapasitas ini akan mencapai 4 juta penumpang pada 2024. Sementara itu, kapasitas kargo diperkirakan bisa mencapai 3.500 ton pada 2044.

5. Setelah berakhir masa konsesi selama 25 tahun, konsorsium Changi akan menyerahkan kembali Bandara Komodo kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.*