MAUMERE, FLORESPOS.ID – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Sepanjang Januari-Juni 2020, kasus DBD di Sikka mencapai 1.667 kasus. Sebanyak 14 orang diantaranya meninggal dunia.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus, kasus terbanyak terjadi dari Januari-Maret, yakni 1.529 kasus.

Jumlah ini sekitar 5% dari total kasus di Indonesia pada periode ini yang sebanyak 25.693 kasus, tersebar di 30 provinsi.

Selama tiga bulan pertama tahun ini, terdapat 14 pasien DBD meninggal dunia, yang menjadikan Sikka sebagai daerah kabupaten paling tinggi angka kematian akibat DBD di Indonesia.

Sementara pada periode ini, jumlah kasus di Provinsi NTT sebanyak 2.711 kasus, dengan 32 pasien DBD meninggal dunia. Sikka menyumbang sekitar 38% dari total kasus tersebut.

Selanjutnya, pada periode April-Juni, hanya bertambah 138 kasus, di mana 5 pasien di antaranya sembuh dan 4 lainnya masih dirawat.

Petrus mengingatkan agar masyarakat perlu melakukan pemberantasan nyamuk dengan metode 4M Plus (menutup, menguras, mengubur, dan memantau).

Ia pun menghimbau agar masyarakat Sikka menggunakan kelambu anti nyamuk, obat, dan bubuk pembunuh larva di tempat penampungan air yang sulit dikuras.

“Mari kita gencarkan lagi pola 4M Plus agar DBD bisa dicegah dan berhenti,” ujar Petrus kepada Kompas.com, Selasa (9/6).

Empat Faktor DBD di Sikka

Direktur P2P Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia Tarmizi mengatakan pada Maret lalu bahwa angka kasus DBD di Sikka meningkat signifikan karena beberapa faktor.

Pertama, Sikka merupakan salah satu kabupaten yang mengalami kesulitan akses terhadap air bersih karena kontur geografisnya.

Oleh karena itu, banyak masyarakat di daerah itu menampung air di rumahnya dalam bentuk wadah, seperti ember, baskom dan lainnya.

Tempat penampungan air tersebut disimpan beberapa waktu lamanya, sehingga memungkinkan nyamuk hinggap dan bertelur.

Kedua, Kabupaten Sikka juga minim pengolahan sampah atau limbah rumah tangga. Di halaman rumah warga masih banyak ditemukan tumpukan botol bekas yang dapat menampung air.

Ketiga, masyarakat salah mengelola ban-ban bekas untuk dijadikan pot tanaman atau pagar di sekitar rumah mereka. Ketika musim hujan, air tertampung di wadah ban tersebut.

Keempat, keterlambatan untuk merujuk ke rumah sakit karena letak rumah sakit pusat yang terlampau jauh dari tempat tinggal pasien.*