JAKARTA, FLORESPOS.ID – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Maret lalu menyatakan keseriusannya untuk mengembalikan tetenger Istanbul Hagia Sophia sebagai masjid.

Karena itu, rencana menempatkan Hagia Sophia tetap sebagai museum menurutnya merupakan “kesalahan besar”.

Ia bahkan mencabut status museum yang diberikan pada 1935 lalu menjadikannya sebagai masjid seperti di era kekaisaran Ottoman.

Meski demikian, desakan pemerintahan Turki untuk menyulap bangunan yang merupakan Gereja Kristen Ortodoks Yunani yang dibangun Kaisar Byzantium, Justinian I, itu menuai kontroversi di tengah pergulatan antara kelompok konservatif dan pegiat toleransi.

Pimpinan Gereja Apostolik Armenia mengusulkan agar bangunan itu dipakai bersama-sama umat Muslim dan Kristen.

Sementara, Patriark Konstantinopel dan Gereja Apostolik Armenia, Sahag II Mashialan mengusulkan supaya umat Muslim dan Kristen diberi kesempatan yang sama untuk dapat beribadah tempat itu .

Menurutnya, Hagia Sophia memiliki ruang yang cukup luas yang dapat menampung kedua umat beragama.

“Mari kita jadikan ini sebagai simbol perdamaian bagi kemanusiaan,” katanya, mengutip Kompas.com,┬áKamis (18/6).

Berbeda dengan pihak oposisi yang ingin mempertahankan status museum, Mashialan menilai doa dan shalat lebih cocok untuk Hagia Sophia ketimbang para turis yang berlarian membidik foto.

Lembaga Fatwa Al Azhar, Dar Al Ifta, pun mengritik Erdogan yang ingin menggunakan agama sebagai ambisi kolonialnya di luar negeri.

Yunani juga termasuk yang paling vokal menyuarakan kritik terhadap rencana Erdogan perihal Hagia Sophia.

Sementara itu, Gereja Ortodoks Rusia juga mewanti-wanti, langkah itu akan memicu ketegangan agama.

Gereja Kristen Awal Jadi Masjid

Diketahui, Hagia Sophia dibangun pada 537 M oleh dua arsitek Yunani, Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Tralles.

Katedral terbesar dunia selama kurang lebih 1.00 tahun ini menjadi masjid kala Sultan Mehmed merebut Konstantinopel pada 1453.

Awal Mei lalu, pemerintah Turki mengizinkan lafal Al Quran Surat Al Fath dikumandangkan di dalam Hagia Sophia untuk peringati pendudukan Konstantinopel, 567 tahun lalu.

Organisasi Konservatif Islam di Turki, Serikat Pegawai Yayasan Keagamaan (Diyanet Bir-Sen), sebelumnya telah mengkampanyekan usulan untuk menjadikan Hagia Sophia menjadi masjid.

Begitu pula dengan partai pemerintah, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang juga telah lama melobi supaya status Hagia Sophia bisa diubah menjadi masjid.

Pada 2015 silam, pemerintah Turki menggelar acara keagamaan di Hagia Sophia (Kebijaksanaan Suci), pertama sejak 80 terakhir.

Meski intervensi luar negeri mulai berdatangan, pemerintah Turki bersikeras bahwa masalah itu hanya urusan “kedaulatan nasional”.

Saat ini status Hagia Sophia bergantung pada keputusan pengadilan administrasi tertinggi di Turki pada 2 Juli mendatang.*