JAKARTA, FLORESPOS.ID – Otoritas Indonesia telah merilis data terbaru mengenai pasien terkonfirmasi virus Corona (Covid-19 pada Jumat (27/3) siang.

Dari pemaparan tersebut, diketahui jumlah pasien yang terkonfirmasi positif Coroba terus bertambah, di mana sebanyak 1.046 orang telah terinfeksi Corona.

Nasib naas menimpa 87 saudara dan saudari kita karena nyawa mereka direnggut oleh virus aneh yang mematikan ini. Sementara 46 orang lainnya sembuh.

Tiap hari kita melihat virus ini kian ganas dan merenggut nyawa manusia tak berdosa di berbagai negara di dunia. Ratusan negara sudah terpapar dengan sekitar 1 persen dari total penduduk dunia telah pergi menuju dunia kematian.

Di Indonesia, Corona telah menyebar dan memukul masyarakat di 28 provinsi dari total 34 provinsi di Indonesia, sejak pertama teridentifikasi di Depok, Jawa Barat, awal Maret lalu. Provinsi NTT adalah salah satu daerah yang hingga kini masih “hijau”.

Dengan kondisi ekonomi dan sistem perawatan yang ala kadar, ditambah kepanikan dan kekhawatiran yang membuncah, para pasien tidak jarang harus menghadap Sang Khalik sebelum waktunya.

Sementara beberapa tenaga medis, baik itu perawat biasa maupun dokter pun harus berpulang karena ketulusan dan kecintaan mereka dalam merawat pasien Corona.

Secara global, penyebaran virus corona terus meluas dan memukul sekitar 200 negara dunia. Dilansir dari Worldometers, Sabtu (28/3), jumlah kasus virus corona telah mencapai 593.656 kasus dengan 27.215 orang meninggal dan 132.526 lainnya sembuh.

28 Provinsi Terdampak Corona

Situs Sekretariat Negara ditambah dengan beberapa media menurunkan laporan rinci mengenai data virus corona setiap provinsi, seperti berikut:

  1. DKI Jakarta total 598 Positif, 31 sembuh, dan 51 meninggal dunia
  2. Jawa Barat total 98 Positif, 5 sembuh, dan 14 meninggal dunia
  3. Banten total 84 Positif, 1 sembuh, dan 4 meninggal dunia
  4. Jawa Timur total 66 Positif, 8 sembuh, dan 4 meninggal dunia
  5. Jawa Tengah total 43 Positif, 0 sembuh, dan 6 meninggal dunia
  6. Sulawesi Selatan total 29 Positif, 0 sembuh, dan 1 meninggal dunia
  7. DI Yogyakarta total 22 Positif, 1 sembuh, dan 2 meninggal dunia
  8. Kalimantan Timur total 11 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  9. Bali total 9 Positif, 0 sembuh, dan 2 meninggal dunia
  10. Sumatra Utara total 8 Positif, 0 sembuh, dan 1 meninggal dunia
  11. Papua total 7 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  12. Kalimantan Tengah total 6 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  13. Kepulauan Riau total 5 Positif, 0 sembuh, dan 1 meninggal dunia
  14. Sumatra Barat total 5 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  15. Lampung total 4 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  16. Aceh total 4 Positif, 0 sembuh, dan 1 meninggal dunia
  17. Sulawesi Tenggara total 3 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  18. Kalimantan Barat total 3 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  19. Nusa Tenggara Barat total 2 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  20. Sulawesi Utara total 2 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  21. Papua Barat total 2 Positif, 0 sembuh, dan 1 meninggal dunia
  22. Jambi total 1 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  23. Maluku total 1 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  24. Maluku Utara total 1 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  25. Kalimantan Selatan total 1 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  26. Riau total 1 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  27. Sulawesi Tengah total 1 Positif, 0 sembuh, dan 0 meninggal dunia
  28. Sumatra Selatan total 1 Positif, 0 sembuh, dan 1 meninggal dunia.

NTT Masih “Hijau”

Baik otoritas pusat maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga hari ini belum menurunkan laporan mengenai adanya warga terinfeksi positif Corona.

Itu berarti, Provinsi NTT masih berada dalam zona hijau atau zona aman. Puji Tuhan.

Meski demikian, bukan berarti masyarakat NTT kemudian lengah karena berpikir mungkin virus ini tidak akan singgah ke NTT. Labuan Bajo atau Kupang sebagai pintu masuk ke NTT cukup rentan untuk disusupi Corona.

Lagipula, otoritas daerah telah melaporkan bahwa jumlah Orang Dalam Pengawasan (ODP) di NTT hingga saat ini, seperti laporkan Pos Kupang (28/3) terus bertambah. Dari sebelumnya 344 orang, kini sudah naik menjadi 365 orang.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut: 41 orang yang selesai masa pemantauan, 8 orang sedang dirawat dan sebanyak 316 orang lainnya dikarantina secara mandiri.

Dengan adanya ODP ini, maka masih terbuka kemungkinan adanya warga yang terinfeksi bila selama masa karantina sistem imun tubuh mereka mengalami depresi, atau terjadi kontak fisik dengan pasien positif yang pulang dari daerah endemik Corona.

Pemerintah pusat sebelumnya telah meingimpor 125 ribu alat tes cepat (rapid test) dan telah didistribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia. Dengan adanya alat ini memungkinkan pendeteksian dini, terutama bagi tenaga kesehatan dan ODP.

Untuk mencegah masuk dan terinfeksinya Corona di NTT, otoritas setempat, baik lembaga negara maupun agama, telah menghimbau agar menghindari adanya keramaian atau kegiatan massal.

Pemerintah Manggarai Barat, di sisi lain, telah mengeluarkan kebijakan untuk menutup sementara akses bagi penerbangan domestik beberapa maskapai, dari dan ke Bandara Komodo Labuan Bajo, mulai akhir pekan ini.

Yang belum terdengar adalah strategi penanganan oleh Pemerintah Provinsi NTT mengenai pandemi ini, terutama sistem keamanan, untuk menghindari Corona di NTT.

Akses pelabuhan dan penerbangan di beberapa daerah/kota di NTT sampai saat ini masih terbuka. Kenyataan ini tidak bisa menampik fakta bahwa ke depannya NTT tidak akan terus berada di zona hijau dari Corona.

Beberapa waktu lalu, ada pejabat daerah yang berceletuk bahwa sulitnya Corona masuk ke NTT karena masyarakat sering makan kelor. Atau, bila memang terdeteksi adanya Corona, maka kepada pasien akan diberikan minuman kelor.

Sementara sekelompok warga di Kabupaten Alor, misalnya, menurut pemberitaan media lokal, melakukan upacara ‘tolak bala’ untuk menangkal dan mengusir Corona dari daerah itu.

Sesumbar pejabat-pejabat ini tidak dapat dipertangungjawabkan karena mereka masih menganggap remeh virus yang mematikan ini.

Ini sama halnya dengan beberapa pejabat di Kementrian yang ketika Corona menghantam China akhir tahun lalu, berceletuk bahwa virus itu tidak akan masuk ke Indonesia karena warganya sering makan nasi kucing, dan lain-lain.

Tidak kurang untuk membuat penilaian sementara bahwa baik masyarakat maupun pejabat kita masih berpikir tradisional, di tengah gegap gempita revolusi teknologi dan informasi.*