LABUANBAJO, FLORESPOS.ID – Di balik kepanikan dan kekhawatiran global terhadap virus corona, ternyata ada nilai positifnya. Pengurangan aktivitas di luar rumah menjadi salah satu faktor yang memperlihatkan kinerja positif itu.

Di beberapa kota, dengan kurangnya kendaraan yang beroperasi membuat kualitas udara makin segar tiap harinya. Kecuali beberapa kota yang memang untuk mendapatkan udara segar membutuhkan waktu panjang, seperti di Jakarta atau Tangerang.

Kota Labuan Bajo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, salah satu episentrum baru pariwisata Indonesia, bahkan dunia, setelah Bali, adalah yang terimbas oleh kebijakan karantina mandiri merespon pandemi corona.

Seperti laporan Warta Kota, Senin (30/3), udara di Kota Labuan Bajo awal pekan ini terlihat sangat segar. Jalanan cukup lengang yang membuat langit lebih cerah karena berkurangnya polusi udara dari asap kendaraan.

Belum menunjangnya infrastruktur jalan yang memadai memang membuat sejumlah jalan protokol di Labuan Bajo kerap bising dan berdebu selama ini.

Namun setelah dihimbau untuk melakukan isolasi atau karantina mandiri di rumah, kawasan Kota Labuan Bajo, yang jika musim kemarau tiba udaranya menjadi sangat panas, kini memiliki udara baru yang dirindukan sejak kota itu disulap menjadi kawasan wisata.

Berdasarkan pantauan AirVisual, Labuan Bajo berada di angka 9 AQI (Air Quality Index) selama seminggu terakhir.

Tidak hanya di Labuan Bajo, tren positif indeks kualitas udara juga muncul di beberapa kota lainnya di Indonesia.

Secara global, polusi dunia menurun dan kualitas udara menjadi baik akibat berkurangnya operasional transportasi dan juga pabrik-pabrik skala besar.

Salah satu penggiat industri pariwisata di Labuan Bajo Matheus Siagian mengatakan bahwa ada sisi positif lain di balik imbauan pemerintah terkait isolasi mandiri.

“Angka-angka berdasarkan AirVisual itu belum pernah terjadi sebelumnya, terlebih di Labuan Bajo. Secara keseluruhan saya berpendapat, dunia bisa kembali bernafas segar,” katanya.

Kembalinya udara ke kondisi alamiahnya, setelah lama tercemar oleh emisi karbon, baik dari limbah pabrik atau konsumsi rumah tangga, meyakinkan kita akan terjadi pemulihan atau penyegaran udara di tengah wabah corona.

Hal ini cukup positif. Namun kita tetap berharap bahwa tidak hanya pemulihan kondisi alam saja, tapi yang juga penting adalah menyelamatkan kehidupan manusia dari corona.*