MBAY, FLORESPOS.ID – Pemerintah Kabupaten Nagekeo menginisiasi dan serentak menjadi tuan rumah gelaran Festival Literasi pertama tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2019.

Festival literasi ini berniat mengeksplorasi dan mempromosikan kekayaan alam dan budaya kabupaten yang terletak persis di tengah-tengah Pulau Flores tersebut.

Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do memandang, kabupaten Nagekeo sebetulnya memiliki modal alam yang besar berupa topografi, geologi, dan hidrologi yang mendukung pertanian, perikanan dan kelautan, perkebunan, dan peternakan dan lain-lain untuk memecahkan semua persoalan hidup masyarakatnya.

Selama ini, kabupaten yang terbentuk pada tahun 2007 ini tergolong ke dalam salah satu daerah otonomi baru yang masih miskin dan tertinggal. Karena belum ada gebrakan ekonomi dan pembagunan yang signifikan sejak memisahkan diri dari induknya, yakni Kabupaten Ngada.

Bupati Don optimis, Nagekeo memiliki posisi geostrategis yang menguntungkan karena berada di tengah-tengah Pulau Flores dan pantas dijuluki The Heart of Flores (Jantung dari Flores).

Karenanya Nagekeo bisa dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang membentuk segitiga emas di Pesisir Utara dengan Kawasan Pariwisata Nasional dan Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo.

“Berbagai Kementerian atau Lembaga Dukung Percepatan Pembangunan Nagekeo melalui Festival Literasi Nagekeo 2019 pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bulan Juli 2019 lalu sudah di hadapan para pejabat dari berbagai kementerian atau lembaga yang digelar di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,” katanya, Senin (23/9), mengutip Kompas.com.

Pulau Kiden di Wolowae, Nagekeo, NTT. Foto: Maksi Biaedae.
Pulau Kinde di Wolowae, Nagekeo, NTT. Foto: Maksi Biaedae.

Punya Kekayaan Literasi

Bupati Don menceritakan, kemampuan membaca teks kultural membekas pada lintasan historis yang sangat panjang. Dalam menghadapi persoalan hidupnya, leluhur Nagekeo telah mewariskan cara membaca aksara alam dan budaya dengan proses kognitif yang istimewa.

Masyarakat Nagekeo hidup bersuku-suku dengan kekayaan bahasa dan dialek, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan, ritual, sistem peralatan dan teknologi, artefak, seni dan kerajinan.

Ia memaparkan pula, Festival Literasi Nagekeo merupakan panggung bersama Nagekeo dan Masyarakat NTT lainnya untuk mempertahankan kekayaan budaya lokal dari proses marjinalisasi budaya dominan, sekaligus mendobrak stereotip dan inferioritas “Nagekeo sebagai kabupaten miskin dan tertinggal”.

Salah satu dari sekian warisan yang asih hidup di Nagekeo adalah “Esu Kose”. Ini adalah nasi yang dimasak menggunakan wadah periuk tanah. Warisan ini masih terawat dengan baik di Desa Woedoa, Nagekeo. Uniknya, “Esu Kose” diusung di kepala perempuan dan perempuan itu sendiri yang memikulnya.

“1000 perempuan siap mengusup 1000 esu kose yang berisi nasi di dalam periuk tanah. Ini merupakan warisan leluhur orang Nagekeo yang dibangkitkan kembali,” paparnya.

Event ini dilaksanakan sepanjang 27 September hingga 1 Oktober 2019, dan diikuti 23 kabupaten dan kota di Provinsi NTT.

Lanskap alam di Kabupaten Nagekeo. Foto: istimewa.
Lanskap alam di Kabupaten Nagekeo. Foto: istimewa.

Ajang Promosi Nagekeo

Bupati Don dalam sambutannya mengatakan, Festival Literasi Nagekeo merupakan event besar yang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan Nagekeo ke tingkat nasional dan internasional dengan tema “Dari Nagekeo, NTT Bercarita”.

Menurut Bupati Don, Nagekeo memiliki keragaman budaya, bahasa dan suku. Ia berkeyakinan dengan perbedaan tersebut membuat orang Nagekeo bersatu dalam keanekaragamannya.

Penyelenggarakan Festival Literasi Nagekeo, kata Bupati Don, adalah untuk mewujudkan semangat memahami nilai literasi pada berbagai aspek pembangunan di Nagekeo sekaligus mendorong pembangunan ekonomi kreatif masyarakat Nagekeo dengan mengedepankan prinsip mencerdaskan anak bangsa.

Ia menegaskan, kegiatan festival literasi secara substansi juga bergerak dalam pola pengembangan serta pelestarian karakter budaya, seni dan akhlak manusia yang secara teknis dalam perubahan pola pikir serta mental yang mau berubah untuk kemajuan diri dari daerah, sebuah literasi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan.

Selain itu momen festival literasi ini diikhtiarkan untuk mempromosi kabupaten Nagekeo dari segala aspek dan menjadikan Nagekeo sebagai pusat peradaban baru di Timur Indonesia.

Perlu diketahui, sejak masa kepemimpinan Bupati Don dan Wakil Bupati Marianus Waja, Nagekeo menjadi salah satu daerah yang selalu disoroti dan diberitakan oleh media-media nasional seperti Kompas.com.

Karena itu, festival ini dapat menjadi wadah di mana Pemkab dapat membangun citra dan kinerja kepemimpinannya secara efektif dan efisien agar lebih dikenal di kancah nasional.

Bupati Nagekeo Yohanes Don Bosco Do di acara pembukaan Festival Literasi Nagekeo. Foto: suara.com
Bupati Nagekeo Yohanes Don Bosco Do di acara pembukaan Festival Literasi Nagekeo. Foto: suara.com

Tiga Panggung Acara

Ketua Panitia Vestifal literasi Nagekeo 2019 Benediktus Ceme menjelaskan, dalam kegiatan festival literasi ini, panitia menyajikan tiga konten panggung.

Pertama, panggung literasi yang menekankan kegiatan lomba-lomba literasi seperti lomba pidato bagi siswa/siswi SMP/SMA, lomba mewarnai bagi anak-anak TK/PAUD/SD, lomba pantun Daerah bagi masyarakat, diskusi terfokus/talkshow dengan berbagai tema seperti agri, seni musik, dan seni tenun, kebijakan literasi dengan berbagai narasumber profesional.

Kedua, panggung seni budaya yang menampilkan keberagamaan atraksi seni dan budaya Nagekeo dengan keunikan ragam tari, lagu dan musik, etnic carnaval, tradsisional fashion show yang menampilkan mode pakaian tradisional oleh Yayasan Levico.

Akhirnya, panggung pameran sebagai bagian penting dalam promosikan potensi Nagekeo khususnya dan Kabupaten-Kabupaten lain di wilayah Provinsi NTT, Bahwa NTT adalah suatu daerah yang memiliki berbagai potensi dibidang pertanian, pertambangan, pariwisata dan lain-lainnya.

Peserta kegiatan Festival Literasi Nagekeo tahun ini melibatkan pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah kabupaten/Kota se-Provinsi NTT, pihak swasta, lembaga pendidikan, BUMN/BUMD, Tokoh Masyarakat Kabupaten Nagekeo, serta seluruh masyarakat dari berbagai kalangan.

Sumber: Kompas.com, Kumparan.com

Simak video jelang pembukaan Festival Literasi Nagekeo di bawah ini: