ENDE, FLORESPOS.ID – Hari ini, tepat setahun masyarakat Kabupaten Ende di Provinsi Nusa Tenggara Timut (NTT) mengenang kepergian mantan Bupati Ende, Marselinus YW Petu yang meninggal 26 Mei 2019 lalu.

Tidak ada yang istimewa dalam peringatan Bupati Ende ke-8 itu kali ini. Di tengah pandemi Covid-19, masyarakat Kabupaten Ende hanya diajak berdoa bagi almarhum.

Rencana Pemerintah Kabupaten Ende untuk menyiarkan Misa kenangan setahun secara live streaming pun dibatalkan karena situasi pandemi Covid-19.

Marsel Petu diketahui di RS Siloam Kupang ketika melakukan perjalanan dinas ke ibukota Propinsi NTT itu. Kepergiannya menyisakan tangis masyarakat Ende-Lio yang sangat mencintainya karena meninggal secara mendadak tanpa riwayat penyakit apapun.

Bupati yang lahir di Ende, 31 Oktober 1963 ini meninggalkan istri tercinta, Matilda Gaudensia Ilmoe, dan dua putranya Dede dan Carlos.

Bupati (alm.) Marsel menjabat sejak tanggal 7 April 2014, lalu terpilih kembali di periode berikutnya sebelum akhirnya diganti karena meninggal dunia.

Karir Politik dan Pemimpin

Mendiang Marsel Petu mengenyam pendididkan di SDN Ende 2, SMPK Frateran Ndao, SMAK Syuradikara dan melanjutkan di Institut Teknologi Nasional Malang jurusan Arsitektur.

Sosok yang tenang, ramah, rela berkorban dan mudah bergaul ini sangat aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa dan kepemudaan di Kota Malang, Jawa Timur. Pada tahun 1984-1985 ia dipercaya sebagai Ketua Paguyuban Ende di Malang.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik ITN Malang dan bersama teman-temannya menjadi inisiator pendiri Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA). Ia juga aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia(KNPI) kota Malang.

Bakatnya dalam sepakbola diarahkan dengan menggagas turnamen spakabola Kelimutu Cup, senuah turnamen sepakbola perkumpulan mahasiswa se-Flobamora dan juga dari daerah lainnya di Malang.

Tahun 1994 ia menyelesaikan pendididkan di ITN lalu kembali ke bumi Kelimutu di tahun yang sama. Di kota kelahirannya, ia sempat mengajar di Fakultas Teknik Universitas Flores sebelum berhenti dan mendirikan CV Sa’o Ria Plan pada 1995.

Karier politiknya dimulai ketika menjadi kader partai Golongan Karya Kabupaten Ende. Pada tahun 1999, ia maju sebagai Caleg dan lolos sebagai anggota DPRD Ende.

Sebagai kader militan dan bendahara partai, ia maju lagi sebagai Caleg pada Pemilu 2004 namun tidak lolos karena regulasi Pemilu berdasarkan nomor urut calon yang akan terpilih di legislatif bukan berdasakan suara terbanyak.

Pada tahun yang sama, ia terpilih menjadi Ketua DPC Partai Golkar Ende. Pada Pilkada tahun 2008, ia maju sebagai calon bupati Ende didampingi Stef Tani Temu.

Gagal di Pilkada Bupati, ia menang di pemilu legislatif pada tahun 2008. Lantas, ia terpilih sebagai Ketua DPRD II Ende.

Pada tahun 2013 ia maju lagi dalam Pilkada bersama H. Djafar Ahmad dan dipercayakan oleh masyarakat Ende-Lio untuk memimpin Kabupaten Ende.

Melalui perjuangan politik yang sulit dan persaingan yang sangat ketat, Marsel dan Djafar akhirnya kembali terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Ende untuk periode 2019-2024. Mereka dilantik pada 7 April 2019.

Selama memimpin Kabupaten Ende, Marsel dan Djafar membuat berbagai terobosan dalam membangun Kabupaten Ende.

Pembangunan merata mulai dari pelosok melalui jargon ”Membangun Dari Desa’’ dengan menyatukan tiga unsur utama pembangunan, yakni adat, agama dan pemerintah.

Namun, Bupati yang pandai berbahasa adat ini dipanggil kembali oleh sang Khalik pada 26 Mei 2019 di Kota Kupang karena serangan jantung.

Jenazahnya dimakamkan pada 29 Mei 2019 di Pekuburan Onekore, Ende. Tongkat kepemimpinannya dilanjutkan Djafar yang saat ini menjabat sebagai Bupati Ende.*