MAUMERE, FLORESPOS.ID – Kisah Yosef Erwin dari Wae Sano, Manggarai Barat meraih simpati yang luas dari netizen setelah video penolakan proyek geothermal Wae Sano tampil di laman Facebook Flores Documentary Network (FDN).

Video tersebut telah mencapai 65.000 penonton, ditanggapi 1.200 orang, dibagikan 1.000 kali, dan didiskusikan ratusan orang.

Flores Documentary Network adalah sebuah platform digital dokumenter yang mendokumentasikan secara audio visual tentang dinamika sosial, politik, ekonomi dan kultural masyarakat Flores dengan ulasan yang kritis dan independen.

Berbagai tanggapan berupa apresiasi dan dukungan mengalir dari berbagai pelosok Indonesia kepada Yosef Erwin.

Banyak netizen menilai bahwa Yosep Erwin adalah contoh masyarakat kecil yang baik karena peduli dengan persoalan sosial masyarakat di lingkungannya.

Yosef Erwin, seorang petani kecil bersama warga di empat kampung adat di Desa Wae Sano, Manggarai Barat, menolak menyerahkan tanah dan merelakan kampung halaman mereka menjadi lokasi sumur pengeboran (wellpads) proyek Geothermal.

Proyek yang didanai oleh Bank Dunia itu dikerjakan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), sebuah perusahaan BUMN di bawah Kementerian Keuangan.

Proyek ini nantinya akan dilelangkan kepada konsorsium swasta dan diperkirakan akan menghasilkan 50 megawatt (MW) listrik.

Dalam video tersebut, Yosef Erwin berargumentasi dengan lugas dan tegas dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Masyarakat Wae Sano tidak mendukung proyek yang dibangun Pemerintahan Presiden Joko Widodo demi mendukung industri pariwisata di Labuan Bajo-Flores.

Karena proyek itu mengganggu ruang hidup mereka, begitu alasan penduduk di Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang.

Ruang hidup yang mereka maksud adalah kesatuan utuh antara antara golo lonto, mbaru kaeng, natas labar (perkampungan adat), uma duat (lahan pertanian/perkebunan), wae teku (sumber mata air), compang takung, lepah boa (tempat-tempat adat), puar (hutan) dan sano (danau).

Yosef Erwin dalam video yang viral itu, menolak menyerahkan tanahnya. Harga tanah ditaksir seharga Rp26,9 miliar setelah menghitung semua tanaman termasuk rumput-rumput dan jamur.

Dia tegas menolak karena tidak ikhlas menyerahkan tanah dan meninggalkan kampung halamannya untuk relokasi ke tempat lain.

Yoseph Erwin menuturkan bahwa dia tidak mau meninggalkan kampung halamannya dengan seluruh apa yang ada.

Menurutnya, uang itu akan habis, tetapi apa yang ada tidak akan pernah habis sampai dunia kiamat.

Stef Abur, warga Desa Wae Sano lainnya, mengatakan hal serupa.

Menurutnya, penggusuran kampung untuk sebuah proyek atau penggeseran dalam eufemisme rezim sekarang atau relokasi dalam istilah neoliberal menghilangkan tidak hanya tanah, tetapi juga sejarah satu kelompok masyarakat.

Stef menambahkan bahwa seringkali orang-orang sederhana seperti orang-orang Wae Sano, yaitu para petani, nelayan, masyarakat adat, orang desa, kaum miskin kota, kelompok minoritas, dan sebagainya baru akan menjadi perhatian publik ketika mereka menjadi korban dari hal-hal ekstrem; seperti menjadi korban kekerasan aparat dan kaki-tangan perusahaan, atau ketika tertimpa bencana.

Sebelumnya, Aliansi Mahasiswa Manggarai Raya (AMMARA) Kupang pun melayangkan tuntuan kepada Pemerintah Kabupaten Mabar untuk menghentikan segera proyek yang dinilai akan merusak lingkungan dan tatanan kultural warga Nunang itu.

Jika Pemkab tidak menanggapi dan menghentikan proyek tersebut, maka AMMARA Kupang berencana akan menggelar demo besar-besaran seraya meluncurkan mosi tidak percaya kepada Pemkab Mabar, Gubernur NTT dan pemerintah pusat.*