Bandung, Florespos.id – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia terus memantau aktivitas Gunung Tangkuban Parahu yang sejak kemarin telah memuntahkan abu vulkanik.

Kondisi visual Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu pada pukul 09.06 WIB hari ini, Sabtu (27/7) berupa hembusan gas dan uap air. Rekaman tremor terus menerus dominan 2 mm cenderung turun saat ini.

PVMBG Badan Geologi akan memantau terus menerus aktivitasnya dan direkomendasikan kepada masyarakat untuk tidak mendekati radius 500 meter dari kawah aktif.

Hari ini, PVMBG-Badan Geologi melaksanakan konferensi pers di Ruang Monitoring PVMBG untuk menyampaikan hasil evaluasi data pemantauan dan rekomendasi terkait aktivitas Gunung Tangkuban Perahu media dan masyarakat.

Menurut Kepala PVMBG Kasbani, Gunung Tangkuban Parahu masih berpotensi untuk terjadi erupsi dengan masih terekamnya Tremor menerus.

Berdasarkan evaluasi data pemantauan terkini mengindikasikan bahwa potensi untuk terjadinya erupsi besar masih belum teramati.

“Aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih berada dalam kondisi yang belum stabil dan aktivitas dapat berubah sewaktu-waktu,” katanya.

Kasbani menjelaskan, ancaman bahaya yang paling mungkin terjadi saat ini berupa hembusan gas vulkanik dengan konsentrasi berfluktuasi di sekitar Kawah Ratu yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa pengunjung, pedagang, masyarakat sekitar, bila kecenderungan konsentrasi gas-gas vulkanik tetap tinggi serta erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah berpotensi terjadi tanpa ada gejala vulkanik yang jelas.

Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih Level 1 (Normal), evaluasi menerus tetap dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan tingkat ancamannya.

Karena itu, otortias mengeluarkan beberapa rekomendasi:

Pertama, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, pedagang, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas dengan radius 500 meter, serta tidak diperbolehkan menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Tangkuban Parahu.

Kedua, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata Gunung Tangkuban Parahu agar mewaspadai meningkatnya konsentrasi gas gas vulkanik dan dihimbau tidak berlama-lama berada di bibir kawah aktif gunung agar terhindar dari paparan gas yang dapat berdampak bagi kesehatan dan keselamatan jiwa.

Ketiga, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata gunung agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas.

Keempat, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan gunung, tetap memperhatikan perkembangan kegiatan Gunung Tangkuban Parahu yang dikeluarkan oleh BPBD setempat dan selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

Kasbani pada Jumat (26/7) menyampaikan, gunung api Tangkuban Parahu merupakan gunung api aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.

Erupsi Gunung Tangkuban Parahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu. Erupsi terakhir terjadi pada 6 Oktober 2013. Berikut ini disampaikan evaluasi aktivitas G. Tangkubanparahu terkini.

Menurut data pemantauan diperoleh beberapa hasil berikut:

Pertama, secara visual, aktivitas permukaan 1 (satu) bulan terakhir didominasi oleh hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 15-150 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Erupsi terjadi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik.

Kedua, secara seismik, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh gempa-gempa yang mencerminkan aktivitas di kedalaman dangkal berupa Gempa Hembusan.

Setelah erupsi terjadi, rekaman seismik didominasi oleh Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-32 mm (dominan 15 mm). Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan tekanan berupa hembusan-hembusan yang terjadi sampai saat ini.

Ketiga, secara deformasi, dalam 1 (satu) bulan terakhir Gunung Tangkubanparahu mengalami inflasi kecil bersifat lokal. Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih belum stabil.
Secara geokimia gas, di area sekitar Kawah Ratu menunjukkan telah terjadi peningkatan kandungan gas vulkanik H2S dan SO2 pada tanggal 10 Juli 2019.

Kandungan gas vulkanik semakin meningkat pada tanggal 13 Juli 2019, namun hasil pengukuran konsentrasi gas-gas tersebut, setelah pukul 12:00 WIB, sudah cenderung menurun lagi secara cukup signifikan.

Pengukuran gas terakhir tanggal 21 Juli 2019 menunjukkan konsentrasi gas masih berfluktuasi dan cenderung menurun.*