RUTENG, FLORESPOS.IDUskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat merayakan Misa Ekologis di Lingko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur, Kamis (11/6).

Lingko Lolok dan Luwuk merupakan lokasi yang direncanakan untuk mendirikan pabrik semen dan tambang batu gamping oleh PT. Istindo Mitra Manggarai (IMM) dan PT. Semen Singa Merah, anak perusahaan Hongshi Holdings Group di China.

Dilansir matakatolik.com, Uskup Sipri bersama Tim Posko Tanggap Darurat Covid-19 dan Komisi Caritas Keuskupan Ruteng mengunjungi masyarakat pesisir utara itu, yang merupakan wilayah Paroki Reo.

Dalam misa tersebut, Uskup Sipri mengajak seluruh umat Keuskupan Ruteng untuk tetap menjadi kelestarian, keseimbangan, dan keberlanjutan alam di bumi Nuca Lale.

Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu menjaga tanah leluhur yang sudah diciptakan dengan subur dan penuh berkat karunia agung Allah yang Mahakuasa.

Dalam renungannya, merujuk Injil Mateus, 13:24-30, Uskup Sipri mengingatkan tentang pentingnya menjaga lingkungan, seumpama seorang pemilik ladang gandum yang selalu setia menjaga ladangnya agar tetap subur dan terpelihara dengan baik.

Tanam Pohon

Setelah Misa Ekologis, Uskup Ruteng dan rombongan melanjutkannya dengan acara penanaman pohon di Lingko Lolok.

Hal ini merupakan implementasi nyata dari seruan Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan hidup.

Direktur Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Ruteng Rm. Martin Chen mengatakan bahwa keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan umat menjadi bagian dari gerakan pastoral integral yang menjadi gagasan utama Uskup Ruteng.

Kegiatan pastoral selama masa pandemi Covid-19 menjadi bagian awal pencanangan gerakan pastoral integral di bawah payung semangat motto “Omnia In Caritate” (artinya: lakukanlah pekerjaanmu dalam kasih ini).

Motto ini menjadi semangat dasar dalam menanggapi isu kelestarian, keseimbangan alam, pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan, serta kesejahteraan masyarakat.

Romo Chen menegaskan bahwa isu-isu tersebut menjadi fokus Keuskupan Ruteng pada Sinode III Keuskupan Ruteng dan menjadi isu yang mesti selalu ditanggapi gereja pada masa mendatang.

Ia menambahkan bahwa sejak awal Keuskupan Ruteng telah berkomitmen untuk menolak kehadiran tambang di bumi Congkaae.

Proyek Tambang Picu Konflik

Untuk diketahui, rencana pendirian pabrik semen dan tambang batu gamping di Matim saat ini memicu polemik.

Rencana tersebut ditolak sebagian masyarakat Lingko Lolok dan Luwuk, masyarakat Manggarai Raya, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat Manggarai Diaspora.

Kelompok Masyarakat Diaspora pun telah membuat petisi penolakan  dan kini sudah ditandatangani lebih dari 900 orang dari berbagai latar belakang dan profesi, dari dalam maupun luar negeri.

Selain itu, sejumlah LSM dan NGO lingkungan dan tiga fraksi DPRD NTT yakni Fraksi PKB, PAN, dan Hanura juga secara tegas menolak proyek berkedok kesejahteraan tersebut.

Menanggapi penolakan tersebut, Gubernur NTT Victor B. Laiskodat tengah pekan ini merespon positif.

Dalam tanggapannya terhadap pandangan fraksi-fraksi di DPRD pada (10/6) lewat Sekretaris Daerah NTT, Benediktus Polo Maing, Victor mengatakan bahwa rencana tersebut belum dilanjutkan.

Hal itu karena adanya penolakan dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerhati lingkungan, dan sebagian masyarakat yang mendiami lokasi tersebut.*