NAGEKEO, FLORESPOS.ID Pemerintah Nagekeo memandang pentingnya mempersiapkan kehandalan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengelola kekayaan alam untuk meningkatkan pendapatan dan penerimaan daerah di masa depan.

Selain kekayaan lahan pertanian (persawahan) dan peternakan, kabupaten yang baru terbentuk pada tahun 2007 ini terkenal dengan lahan garam yang luas di sepanjang pantai utaranya.

Jika dikelola dengan baik dan efektif, maka potensi kekayaan itu menjadikan kabupaten Nagekeo sebagai pemasok utama garam di seluruh wilayah Flores dan NTT, bahkan dapat didistribusikan ke daerah lain di indonesia.

Untuk mempersiapkan SDM pengelola lahan garam tersebut, Pemda Nagekeo berkerjasama dengan Politeknik Negeri Ujung Pandang mengembangkan “Kampus Garam” dengan merintis pembangunan Akademi Komunitas Negeri (AKN) Nagekeo di kota Mbay.

“Kampus rintisan ini bisa dikatakan sebagai kampus garam,” ujar Direktur AKN Amandus, saat menerima kunjungan Kemenko Kemaritiman, Kementerian Perindustrian dan PT Cheetham Garam Indonesia di Mbay.

Bupati Nagekeo Yohanes don Bosco Do di hadapan para mahasiswa AKN Nagekeo. Foto: istimewa.
Bupati Nagekeo Yohanes don Bosco Do di hadapan para mahasiswa AKN Nagekeo. Foto: istimewa.

“Kampus Garam” merupakan kampus program studi di luar domisili (PDB) Politeknik Negeri Ujung Pandang yang menawarkan dua program studi yakni teknologi kimia industri dan administrasi bisnis. Kampus ini merupakan satu-satunya yang memiliki program studi teknologi produksi garam.

Amandus menerangkan, kampus ini masih membutuhkan banyak bantuan. Meski tahun ini kampus ini telah berhasil meningkatkan programnya dari D2 menjadi D4 atau sarjana terapan.

Menurutnya, salah satu kendalanya adalah perihal infrastruktur. Di mana area kampus ini masih blank spot, tidak ada sinyal selullar sama sekali. Karenanya mahasiswa kesulitan untuk mengakses informasi melalui internet.

Infrastruktur Kampus AKN di Mbay masih sangat terbatas. Foto: istimewa
Infrastruktur Kampus AKN di Mbay masih sangat terbatas. Foto: istimewa

Selain itu, akses terhadap listrik dan air pun sangat terbatas.

“Satu-satunya kampus garam di Indonesia ini masih membutuhkan bantuan kita semua untuk menjadikannya kampus yang paten dan kelak akan menghasilkan SDM paten untuk mengelola kekayaan alam, potensi garam, tidak hanya untuk Nagekeo, NTT dan Indonesia, tapi juga untuk dunia,” paparnya.

Butuh SDM Handal

Dalam kesempatan itu, Kepala Bidang Sumber Daya Non Konvensional Kemenko Kemaritiman Fatma Puspita Sari mengungkapkan bahwa memang sangat diperlukan peningkatan kualitas SDM secara simultan di Provinsi NTT ini, mengingat Provinsi NTT merupakan Provinsi Garam.

“Investasi di Nagekeo tidak hanya bersifat FDI (Foreign Direct Investment) dari Cheetham Garam Indonesia, melainkan juga investasi sumber daya manusia,” terangnya.

Mahasiswa AKN melakukan praktik kerja lapangan. Foto: istimewa.
Mahasiswa AKN melakukan praktik kerja lapangan. Foto: istimewa.

Presiden Direktur Cheetham Garam Indonesia Arthur Tanudjaja menegaskan, pihaknya membutuhkan SDM handal dan akan mengutamakan tenaga kerja lokal.

Dengan perintisan Kampus Garam ini, maka pihaknya pun membuka kesempatan kepada para mahasiswa dan alumni untuk melakukan praktik kerja atau berkarya di Cheetam.

“Mahasiswa AKN dapat melakukan praktek kerja lapangan di Cheetham,” ungkapnya.*