JAKARTA, FLORESPOS.ID – Gejolak ketegangan menyerupai sebuah konflik yang lahir dari sengketa tanah di wilayah kecamatan Nangapanda, di kabupaten Ende (NTT) belum lama ini sempat menarik perhatian banyak pihak.

Kasus tanah suku Paumere sempat menjadi bahan diskusi dan bacaan banyak orang tidak hanya di media online, tetapi juga dalam skala nasional juga sempat dipublikasikan oleh Metro TV.

Meskipun demikian, sampai dengan saat ini tidak ada suatu pernyataan dari pihak-pihak yang terlibat di dalam kasus ini yang mengatakan bahwa kasus ini sudah selesai. Sangat mungkin bahwa kasus ini tetaplah suatu potensi yang akan mencuat di kemudian hari.

Gejolak ketegangan terkait tanah suku Paumere sebenarnya terjadi sudah berulang kali sejak tahun 1974. Bahkan bisa dikatakan juga bahwa gejolak itu semakin berkembang dan membias karena terhubung dengan banyak pihak yang tentunya memiliki kepentingan.

Pertanyaan yang relevan adalah bagaimana kepastian hukum terkait tanah suku Paumere? Bagaimana konsekuensi keterlibatan pihak-pihak lain yang justru memperburuk situasi di sana?

Upaya apa saja yang dilakukan baik dari pemerintah maupun dari tatanan adat agar persoalan itu bisa diselesaikan dengan baik? Mungkinkah sebuah upaya rekonsiliasi damai?

Masih sekian banyak lagi pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah. Jika demikian, apa yang penting saat ini agar tanah suku tetap utuh, atmosfer hidup masyarakat tetap terjaga, kerukunan hidup terpelihara dengan baik?

Perlunya Gagasan Revitalisasi

Tulisan ini merupakan suatu alternatif perspektif yang ditawarkan kepada masyarakat Nangapanda ketika upaya hukum tidak berujung pada penyelesaian yang adil dan jujur.

Jika bukan rekonsiliasi, maka revitalisasi rasa adalah pilihan yang mungkin bisa mengembalikan manusia kepada kebenaran tanpa demonstrasi yang anarkis, tanpa senjata, tanpa intimidasi dan tekanan psikis.

Revitalisasi adalah istilah filsafat yang sudah mulai dipakai sejak filsafat Renaisans. Term ini dipakai untuk menandai kebangkitan Filsafat kuno yang sangat dramatis dalam kasus skeptisisme dengan berkontribusi untuk membuat masalah pengetahuan menjadi sesuatu yang penting bagi filsafat modern awal (bdk. Copenhaver, 1987:507).

Pada prinsipnya istilah revitalisasi itu berarti the process of making something grow, develop, or become successful again atau proses membuat sesuatu tumbuh, berkembang, atau menjadi sukses lagi (bdk. Cambridge Dictionary).

Secara lebih sederhana revitalisasi adalah proses re-vital atau memvitalkan kembali, menjadikan sesuatu penting lagi. Hal apa yang mau direvitalisasi? Tentu banyak hal yang perlu direvitalisasi. Namun dalam konteks tulisan ini, lebih dikedepankan mengenai “revitalisasi rasa”.

Revitalisasi pada Keberagaman

Revitalisasi rasa tentu terkait erat dengan konteks tukisan yakni tanah suku Paumere.

Pertama, Revitalisasi rasa hormat pada keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, warna kulit, adat istiadat telah menjadi tema penting ketika dunia berbicara tentang Indonesia yang terkenal dengan keberagaman itu.

Seorang penulis Jerman, Simone Sinn dalam bukunya “Religiöser Pluralismus im Werden” menulis demikian, “Vielfalt ist den Indonesien ‘in Fleisch und Blut’ übergegangen.” Atau bisa diterjemahkan “keberagaman bagi orang Indonesia itu hal yang sudah mendarah daging” (bdk. Simone Sinn, 2014:316.

Itu berarti, keberagaman selalu menyatu dengan eksistensi orang Indonesia. Karena itu keberadaan suku dengan segala warisan dan peradaban mesti dihormati oleh masyarakat dan pemerintah.

Gejolak yang terjadi terkait tanah suku Paumere dalam arti tertentu terjadi karena hilangnya rasa hormat pada keberadaan suku dan segala warisan yang ada. Barangkali ada fenomena yang bisa dinamakan “mati rasa”.

Revitalisasi rasa adalah proses penting agar baik masyarakat adat maupun pemerintah setempat mulai dengan re-vital atau memvitalkan kembali rasa hormat pada suku dan warisan tradisi yang ada.

Revitalisasi Rasa Syukur kepada Tuhan

Proses revitalisasi ini tidak hanya terkait hubungan antarsesama manusia, melainkan juga terkait erat hubungan manusia dengan Tuhan sebagai Pencipta.

Kembali lagi Simone Sinn menandaskan hal yang sangat penting dalam bukunya, bahwa keberagaman agama, budaya dan etnis di Indonesia itu bukan hanya sebagai suatu realitas tetapi juga sebagai suatu pemberian yang kita sendiri tidak tahu sejarah awalnya. Orang hanya mengenal ungkapan seperti “sudah sejak lama“ (schon seit langem) atau “sejak dulu“ (seit damals) (bdk. Simone, S. 317).

Atau dalam tutur adat suku Paumere “kere tana nggu ngge, watu èku mbèju” yang berarti “sejak awal mula penciptaan itu sendiri”.

Hal yang perlu disadari adalah bahwa awal dari keberagaman ini berasal dari Tuhan, “plurality is the design of God we have to accept.“ Bahkan dalam Islam, terminologi keberagaman atau pluralitas itu disebut dengan istilah “sunnatullah” (gottgegebenes Naturgesetz).

Dalam Sure 49,13 ditekankan bahwa Allah telah menciptakan dunia ini dalam keberagamannya dengan kesadaran yang penuh. (…, dass Gott die Welt absichtsvoll in Vielfalft geschaffen habe), demikian kutip Simonne.

Kita mensyukuri itu semua tanpa perlu merasa dirugikan dengan adanya “yang lain”. Atau tidak perlu membeli atau merampas warisan yang telah diwariskan kepada saudara/i kita, jika dengan tindakan itu dapat merusak hubungan persaudaraan kita. Mengapa? Hal ini karena ada aspek penting yang dibicarakan dalam Islam misalnya.

Simonne dalam wawancaranya dengan seorang Dosen di Jogyakarta menjelaskan tentang empat aspek dari Ukhuwah (Geschwisterlichkeit) atau persaudaraan yang diinterpretasikannya, yakni taaruf (einander kennen) atau mengenal satu dengan yang lain, tafahum (einander verstehen) atau memahami satu dengan yang lain, taawun (einander helfen) atau saling menolong dan tafakul (füreinander einstehen) atau siap mendukung satu dengan yang lain.

Demikian juga dalam kekristenan diajarkan agar saling mengasihi, “hendaklah kamu saling mengasihi“ (bdk. Yoh 13: 34).

Revitalisasi Rasa Kemanusiaan

Setelah lima tahun hidup di Eropa, saya akhirnya menyadari bahwa betapa revitalisasi rasa kemanusiaan di Eropa itu tumbuh kembali setelah berakhirnya rezim pembunuhan massal. Rasa kemanusiaan itu tampak dalam keseharian. Orang boleh berdebat dan beradu argumentasi namun hampir tidak pernah terlihat bahwa mereka sampai beradu fisik.

Mengapa demikian? Jawabannya sederhana yakni, karena rasa hormat mereka pada kemanusiaan yang sangat tinggi. Dan itu sangat masuk akal dan nyata.

Bilamana seekor tupai atau tikus saja yang melintas di rel kereta api, dan kereta api harus berhenti demi keselamatan satu binatang kecil itu, bisa dibayangkan bagaimana rasa hormat mereka pada manusia. Apakah seperti ini di negeri kita?

Revitalisasi rasa kemanusiaan memang penting agar nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi. Manusia adalah makhluk ciptaan yang secitra dengan penciptanya.

Karena itu, dalam konteks gejolak tanah suku Paumere, sebenarnya apapun keadaan masyarakat itu harus tetap dihormati, bahkan tidak pantas dicap, diintimidasi, dll. Mollie Coles Tonn dalam puisi yang berjudul “Solstice“ menulis: “The dead leave us starving with mouths full of love”. Kalau diterjemahkan: Kematian meninggalkan kami kelaparan dengan mulut penuh cinta (bdk. Ladouceur, Ben. I Do Not Think That I Could Love a Human Being (Book); SKIBSRUD, Johanna; POETRY (Literary form); SENTIMENTALISTS, The (Book); HUMAN beings. In: Arc Poetry Magazine. Spring 2019, Issue 88, p. 68-69. 2p. 73).

Penggalan syair itu mau mengatakan bahwa betapa berartinya manusia sebagai makhluk hidup. Tidak heran pula kalau, Hunter James Davidson mengatakan: “Only the human species is capable of grasping, analyzing, and interpreting signs as symbols.” Atau bisa diterjemahkan: “Hanya spesies manusia yang mampu menggenggam, menganalisis, dan menafsirkan tanda sebagai simbol (bdk. Hunter, 2019: 62-67).

Jadi, ekspresi apapun dalam keseharian hidup masyarakat, baik itu gerakan tangan maupun ungkapan selalu terbuka pada kemungkinan tafsir. Tentu akan menjadi sesuatu yang baik dan menarik seandainya ungkapan keseharian itu tidak merendahkan martabat manusia. Menjadi jelas bagi kita bahwa rasa kemanusiaan seharusnya ditempatkan menjadi suatu rasa yang vital.

Rasa kemanusiaan menjadi vital harus merata dan sama tanpa perlu ada klasifikasi dan perbedaan antara masyarakat sipil dan pemerintah, pemangku adat atau warga suku atau antara masyarakat adat denggan aparat keamanan. Semua manusia memiliki martabat kemanusiaan yang sama.

Revitalisasi Rasa Bahasa

Gejolak konflik terkait tanah suku Paumere tidak luput dari pengungkapan kenyataan tentang rasa bahasa yang hilang. Rasa bahasa yang santun dan respek tentu penting dalam ranah komunikasi apa saja.

Rasa bahasa mestinya tidak dipengaruhi oleh jabatan dan peran seseorang. Bahkan telah menjadi suatu tuntutan publik bahwa pejabat publik harus memiliki rasa bahasa yang santun dalam komunikasi dengan orang lain.

Mesti diakui bahwa hanya manusia yang dapat memahami dan menafsirkan niat komunikatif orang lain. Karena itu, jika komunikasi manusia tidak diimbangi dengan rasa bahasa yang baik, maka akan menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda.

Menarik untuk dianalisis dalam konteks bahasa adat suku Paumere yang menyebut bahasa sebagai “ae ngasi“. Kata ini menunjukkan arti yang dalam dari arti kedua kata itu sendiri. Ae berarti air dalam hal ini simbol dari kesejukan dan kesegaran, sedangkan ngasi berarti suatu pesan, petuah atau nasihat. Jadi, pesan yang menyejukkan dengan rasa bahasa kasih itu yang perlu divitalkan.

Demikian beberapa gagasan tentang “Revitalisasi Rasa” terkait konteks suku Paumere. Barangkali dengan tulisan ini, wawasan dan cara pandang kita dibuka ke pemahaman baru tentang pentingnya revitalisasi rasa hormat pada keberagaman suku, rasa syukur kepada Tuhan, rasa kemanusiaan dan rasa bahasa.

Keempat dimensi rasa ini perlu divitalkan agar masyarayakat dan siapa saja memiliki disposisi yang tepat tidak hanya mampu menghargai eksistensi suku Paumere, tetapi juga mampu bertutur jujur dan bersyukur serta memiliki respek yang benar dalam berkomunikasi dengan siapa saja.*