RUTENG, FLORESPOS.ID – Penahbisan Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat Pr, Kamis (19/3/2020), menuai kontroversi di jagad maya, terutama dari kalangan netizen Katolik.

Tidak berhenti di ruang maya, perdebatan itu bahkan berlanjut ke meja-meja diskusi, pertemuan, obrolan lepas di warung-warung kopi, rumah, kampus, dan sejenisnya.

Upacara penahbisan disiarkan secara langsung (live streaming) oleh beberapa akun media sosial (Facebook), sehingga memungkinkan dapat disaksikan seluruh umat Katolik Indonesia bahkan dunia.

Mgr. Siprianus ditahbiskan oleh Kardinal Ignatius Suharyo, didampingi oleh Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Uskup Agung Ende, dan Mgr Silvester San Pr, Uskup Denpasar. Uskup Silvester sebelumnya menjabat sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng.

Turut hadir dalam ritual ini 25 uskup se-Indonesia, para imam, biarawan/biarawati, dan umat Katolik Keuskupan Ruteng serta para pejabat nasional dan daerah Manggarai.

Yang memicu kontroversi adalah ketidakhirauan pihak Keuskupan Ruteng untuk mentaati himbauan pemerintah terkait pandemi virus corona yang saat ini sedang melanda secara meluas di Indonesia. Virus ini diketahui sudah tersebar di 10 provinsi.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona Doni Monardo sebelumnya meminta Keuskupan Ruteng, di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, untuk menunda acara penahbisan agar mencegah penularan virus corona.

Permintaan itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam suratnya kepada Kardinal Ignatius Suharyo dan Bupati Manggarai Deno Kamelus, sehari sebelum upacara dimulai.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate yang batal mengikuti upacara penahbisan sebelumnya pun meminta pihak Keuskupan Ruteng menunda atau dilaksanakan tanpa kehadiran umat di tengah penyebaran virus corona.

Ia mengaku terus berkomunikasi dengan panitia pelaksana dari Rabu (18/3) malam sampai dini hari tadi, Kamis (19/3), mencari jalan keluar untuk menghindari risiko penularan corona dalam acara yang disebut dihadiri ribuan orang tersebut.

Namun pihak Keuskupan Ruteng tetap bergeming dan melangsungkan upacara penahbisan pada Kamis (19/3) pagi. Penahbisan ini dihadiri sekitar 1.500 umat Katolik, baik dari Manggarai, dan Flores umumnya, maupun dari luar NTT.

Karena itulah, Menteri pertama asal Manggarai itu membatalkan diri untuk menghadiri upacara penahbisan. Pembatalan itu juga datang dari Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr. Piero Pioppo, Gubernur NTT, Ketua DPRD NTT, Kapolda NTT dan Danrem 161/Wirasakti.

Bupati Deno secara terpisah mengatakan, sangat sulit untuk menunda upacara penahbisan Mgr Siprianus Hormat karena sudah dijadwalkan beberapa bulan sebelumnya.

Sebagai upaya pencegahan virus corona, pihaknya tetap siaga. Misalnya seluruh umat yang hadir dicek dengan alat thermogun dan diberi hand sanitizer.

Demikian halnya dengan Anggota DPR Benny Kabur Harman yang juga turut hadir dalam upacara penahbisan, yang mengatakan tidak mungkin lagi menunda ritual penahbisan, sementara segala hal telah disiapkan.

Lagipula, permintaan Johny maupun Doni itu dilayangkan sehari sebelum perayaan dimulai. Terus melaksanakannya merupakan risiko terburuk dari segala kemungkinan yang mesti diambil.

Namun demikian, beberapa media, pemerhati dan umat Katolik lain tidak dapat menerima kenyataan bahwa upacara penahbisan tetap dilangsungkan, sementara bangsa Indonesia sedang panik menghadapi risiko kematian akibat corona yang terus meningkat.

Satu hal yang dapat ditangkap dari gambaran komentar pada netizen Katolik tersebut, yaitu bahwa pihak Keuskupan Ruteng cukup nekat dan “melawan” terhadap himbauan pemerintah, dalam hal ini Presiden Joko Widodo.

Sebab saat ini korban corona terus berjatuhan. Per Kamis (19/3), ada 309 kasus dengan 25 meninggal dan 15 lainnya sembuh. Sementara Orang Dalam Pengawasan (ODP) sudah terdeteksi mencapai ribuan orang.

Di Italia, Paus Fransiskus sudah resmi mengumumkan pelaksanaan Misa Paskah 2020 tanpa umat. Beberapa lainnya direncanakan akan melangsungkan misa online.

Kontroversi yang muncul ada benarnya. Karena dalam situasi darurat seperti sekarang ini, menghindari keramaian dan kerumunan, merupakan langkah antisipasi terbaik untuk menghentikan laju penyebaran dan infeksi virus corona.

Di Korea Selatan, virus Corona pertama-tama terinfeksi pada seorang umat dan keluarganya. Sementara hari-hari ini, sudah puluhan imam di Italia yang berjatuhan.

Adalah lebih baik mencegah daripada mengobati. Pepatah klasik ini kiranya dapat didengar dan dipakai dalam konteks ini. Sebab, terkadang ‘kematian’ berada di luar tanggungjawab Tuhan, meski secara iman, kita mengakuinya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Yang perlu kita antisipasi, adalah bahwa semoga saja umat dan imam serta uskup yang hadir tidak terdampak corona.

Jika terpapar, maka kita tidak dapat menghakimi salah satu pihak secara serampangan atau berat sebelah. Sebagai umat, kita patut mempersalahkan diri kita sendiri.

Akhirnya, dengan segala hormat, kita patut mengucapkan: Selamat atas Pelantikan Mgr. Siprianus Hormat Pr menjadi Uskup Ruteng yang baru, setelah dua tahun ditinggalkan Emeritus Mgr. Hubertus Leteng.

Selamat mengemban tugas yang baru bersama umat Keuskupan Ruteng.*