LABUAN BAJO, FLORESPOS.ID – Proses pemulangan sekitar 750 warga asal Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menetap di Bali atau disebut Flobamora Bali menuai sejumlah hambatan. Salah satunya karena akses pelabuhan ke NTT masih ditutup.

Penutupan akses pelabuhan laut dan penyeberangan memang telah dilakukan sejak awal April lalu untuk menekan transmisi virus corona dari klaster Bali.

Sementara pembukaan pelabuhan, menurut Kepala Dinas Perhubungan NTT Isyak Nuka baru dibuka 15 Juni mendatang bersamaan dengan pemberlakukan “new normal” di NTT.

Menurut Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Flobamora Bali Yusdi Diaz, ratusan warga NTT memilih untuk pulang kampung lantaran tidak lagi mampu menyambung hidup.

Di mana mereka tak lagi bisa membayar tagihan listrik, menyewa kos-kosan, dan membeli makanan, karena tak punya uang setelah kehilangan pendapatan akibat pandemi.

Yusdi mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kepada Pemprov NTT, dalam hal ini Gubernur dan DPRD NTT. Namun hingga saat ini Pemprov NTT belum memberikan jawaban.

Keluarga Flobamora Bali juga meminta agar Pemprov NTT memfasilitasi bantuan transportasi laut langsung dari Bali ke NTT, tapi juga belum ditanggapi.

“Surat resmi kami layangkan sejak sekitar 3-4 minggu yang lalu,” kata Yusdi kepada Tribun Bali, Rabu (4/6).

Warga NTT Tidak Diizinkan

Yusdi menerangkan, menurut informasi yang diterima dari KSOP Padang Bai, Bali, penumpang yang ber-KTP NTT tidak dizinkan untuk menyeberang oleh pihak pelabuhan.

Sementara itu, penumpang yang memilih pulang kampung harus menjalankan rapid test. Namun mereka tidak mampu membayarnya karena tidak lagi punya uang.

Dari total 11.778 warga NTT di Bali, ada 4.778 orang yang memerlukan bantuan sosial. Yang lainnya masih bisa bertahan di Pulau Dewata, tapi sisanya memilih pulang kampung.

Sebelumnya, warga diaspora yang meminta pulang telah mengajukan permohonan melalui Sistem Informasi Keanggotaan (SIK) Flobamora karena kesulitan ekonomi.

Gubernur Bali Wayan Koster sebelumnya memang telah menyalurkan bansos kepada warga Flobamora Bali terdampak pandemi virus corona.

Total bantuan yakni sebanyak 2.500 paket sembako yang terdiri dari 700 paket dari PT Pelindo III, 300 paket dari PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Distribusi (UID) Bali, dan 1.500 dari PT Bank Negara Indonesia (BNI).

Namun menurut Yusdi, pilihan pulang kampung merupakan jalan terbaik karena di kampung mereka masih bisa memiliki harapan karena saat ini sedang musim panen.*

Sumber: Tribun Bali