JAKARTA, FLORESPOS.ID – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur bekerjasama dengan Indonesiana menggelar “Festival Lamaholot Flores Timur” perdana di Lewolema (Larantuka) dan Pulau Adonara, kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 11-15 September 2019 mendatang.

Sebagai kelanjutan dari Festival Nubun Tawa tahun lalu, gelaran ini menghadirkan ragam atraksi budaya untuk menggali dan menegaskan kembali ikatan kekerabatan dan kesatuan kampung-kampung adat dan tradisi di wilayah Lamaholot.

Perawatan akan kekayaan tradisi dan filosofi masyarakat dari “Tanah Seribu Ritus” itu kemudian dikemas melalui aneka pentas ritual persatuan, seperti: Seni Lado, Sadok Nonga, Leon Tenada, Dolo-Dolo, Sole Oha, tari Hedung dan lain-lain.

Festival Sebagai Komunikasi Budaya

Menurut Tim Komunikasi dan Kerjasama Festival Faustinuz Zakarias Silo Hallan, gagasan dasar yang melandasi event ini adalah bahwa budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan.

Karena budaya merupakan landasan komunikasi, maka festival merupakan satu sarana komunikasi yang penting dalam menyatukan berbagai elemen dan memberikan pengakuan kepada suatu identitas budaya.

“Karena itu festival ini mengusung tema esensial khas Lamaholot seperti terungkap dalam pepatah berikut: “Puin Ta’an Uin To’u, Gahan Ta’an Kahan Ehan, Pai taan tou”. Artinya: “Mari Jadi Satu”,” katanya melalui pernyataan tertulis, Selasa (20/8).

Kesatuan yang diikat oleh ritus tersebut akan senantiasa menjaga nilai-nilai dasar ke-Lamaholot-an seperti persatuan, gotong-royong, tolong-menolong, saling menghargai, menghormati dan saling mengunjungi.

Dari Atraksi Hingga Sarasehan

Hans Hallan menjelaskan, festival yang berlangsung selama lima hari itu diadakan di dua lokasi, dengan masing-masing di Lewolema (11 dan 12 September 2019) dan di Adonara (14 dan 15 September 2019).

Selain pertunjukkan dan atraksi seni budaya, pada 13 September nanti akan dilangsungkan serasehan di kota Larantuka dengan mengambil tema: “Membaca kembali Ke-Lamaholot-an melalui Festival Seni Budaya Lamaholot 2019”.

Sarasehan ini menghadirkan narasumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB-Bali) serta narasumber lokal.

“Diharapkan dengan kegiatan ini, kecintaaan terhadap nilai-nilai budaya Lamaholot dapat tumbuh dan berkembang,” katanya.

Muncul Kecintaan Terhadap Budaya

Hans Hallan mengharapkan, festival ini menumbuhkan kesadaran dalam diri masyarakat Lamaholot akan rasa memiliki terhadap nilai-nilai kebudayaan.

Hal itu penting dilakukan sebagai kewajibak masyarakat berbudaya untuk melestarikan warisan leluhur sehingga mendorong kemunculan berbagai komunitas dalam masyarakat itu sendiri, baik itu komunitas seni maupun budaya yang berbasis masyarakat.

“Festival Lamaholot Flores Timur 2019, sejatinya bukan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur, melainkan milik seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

Hans Hallan melanjutkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur melalui Dinas Parisiwata dan Kebudayan hanya untuk mengkoordinasi, mengkonsolidasi serta mendorong semua elemen dan komunitas yang ada dalam masyarakat untuk turut serta bergotong-royong melaksanakan dan menyukseskan event tersebut.

“Dengan adanya gotong-royong dan kerjasama lintas sektor dan lintas elemen, diharapkan gaung dari festival ini dapat sampai ke seluruh masyarakat Flores Timur khususnya dan Indonesia secara umum, serta dengan bantuan pemberitaan oleh media, diharapkan bisa menarik semakin banyak orang terutama dari luar Flores Timur untuk dapat hadir menyaksikan festival seni budaya ini,” paparnya.

Tentang Platform Indonesiana

Indonesiana adalah platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang.

Indonesiana diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Indonesiana dikerjakan dengan semangat gotong royong dan dengan melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan di Indonesia.

Pada tahun pertamanya, Indonesiana telah melakukan pendukungan untuk 13 festival seni budaya yang tersebar di 9 daerah di Indonesia dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas, pusat kebudayaan/kedutaan asing serta swasta dalam berbagai bentuk kolaborasi.

Tahun 2019 Indonesiana mendukung 20 festival seni budaya, seperti Festival Sindoro Sumbing, Festival Inerie, Festival Danau Ranau, Festival Foho Rai, Festival Panji, Festival Seni Multatuli, Silek Arts Festival, Festival Saman serta Festival Lamaholot Flores Timur 2019, dan lain-lain.*