MAUMERE, FLORESPOS.ID – Ratusan pedagang yang selama puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari pendapatan di Pasar Tingkat Maumere, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, secara tegas menolak rencana pembangunan mall di kawasan itu.

Hal itu menyusul rencana PT Yasoonus Komunikatama Indonesia (YKI) yang belakangan bersikeras mengatakan akan membangun mall dengan investasi bernilai miliaran rupiah di tempat itu dengan dalih membangkitkan perekonomian Nian Tana.

Di tengah ketidaktegasan sikap politik Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD Sikka, pada Senin (15/6), mereka mendatangi Kantor DPRD Sikka untuk menyampaikan aspirasi penolakan.

Ketua Forum Pengguna Pasar Maumere Marianus Krisensius kepada Liputan6.com mengatakan, rencana pembangunan mal yang berlokasi di Pasar Tingkat Maumere itu membuat pedagang yang menempati lokasi pasar resah, karena berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka ke depannya.

Menurut Marianus, bilamana mall tetap dibangun, maka akan melumpuhkan kehidupan ekonomi para pedagang yang sudah lama menempati dan menggantungkan hidupnya di tempat itu.

Pada prinsipnya, kata dia, para pedagang tidak menolak kehadiran mall di kota Maumere. Namun membangunnya di atas kawasan yang mereka tempati, akan ditolak secara keras.

Karena itu, ia berharap Pemkab Sikka mendengarkan aspirasi pedagang Pasar Maumere yang nantinya akan direlokasi demi pembangunan mal tersebut.

“Untuk kepetingan masyarakat kita jangan mengatakan rugi, kita harus bisa menentukan tempat yang bisa dibagun,” tuturnya.

Mall Harus Direstui Masyarakat

Sebelumnya, Bupati Sikka Robby Idong mengatakan bahwa pembangunan mall harus mendapat restu dari masyarakat, dalam hal ini pedagang yang mendiami kawasan yang akan dibangun.

Karena itu, sebagai pimpinan daerah, ia belum mengambil sikap untuk menyetujui atau menolak, karena semuanya bergantung pada sikap masyarakat seperti apa.

Sementara itu, Pimpinan PT YKI Cabang Provinsi NTT, berbasis Maumere, Selestinus A. Ola berkeras mengatakan bahwa pihaknya akan tetap membangun mall di Kota Maumere.

Sebagai putra daerah, ia memiliki kewajiban untuk membangun daerah, meski ia pernah menjadi caleg tapi gagal.

Dalam dialog dengan DPRD beberapa waktu lalu, Tino Koban, begitu sapaannya, mengatakan bahwa pihaknya seperti dicerca atau dihakimi oleh DPRD Sikka terkait pembangunan mall tersebut.

Padahal, kata dia, PT YKI berniat baik untuk berkontribusi bagi peningkatan ekonomi Kabupaten Sikka.

Tino bahkan mengancam pihak-pihak yang bertentangan, terutama Ketua TPDI Petrus Selestinus yang belakangan turut mengkritik langkah negosiasi PT YKI dengan Bupati Sikka.

“Kalau punya bukti dan nyali, silahkan lapor. Saya akan kasih hadiah kalau berani lapor ke Mabes Polri. Silahkan susun pengacara sebanyak-banyaknya,” katanya, Senin (15/6).

Perselingkuhan Bisnis

Sebelumnya, mengutip Indonesia Satu, Koordinator TPDI Petrus Selestinus mencium aroma perselingkuhan bisnis antara PT YKI dengan Bupati Robby Idong dalam proyek itu. Hal itu terlihat dari draft MoU PT YKI dengan Bupati.

Petrus mengatakan bahwa sebenarnya Bupati Robby sudah memberi isyarat menyetujui atau menerima PT YKI sebagai investor yang akan segera membangun Mall dan Hotel bintang 4 di Pasar Tingkat sebesar Rp 200 miliar disimpan di Bank NTT.

“Langkah Bupati Robby begitu agresif menerima kehadiran PT YKI tergambar jelas dalam draft MoU, terutama uraian tentang hak dan kewajiban Pemda Sikka dan PT YKI,” tandas Petrus, 11 Juni lalu.

Karena itu, ia meminta agar Bupati Robby perlu melakukan sosialisasi dan diskusi matang terlebih dahulu di internal Pemda dan DPRD Sikka, sebelum ditawarkan kepada PT YKI.

Sebab ketika memperhatikan draft MoU yang beredar, Petrus menilai bahwa Bupati Robby bermain cantik di ruang gelap jauh sebelum gagasan membangun Mall dibicarakan dengan DPRD Sikka.

“Ini bukti rancang bangun praktik KKN dan perselingkuhan bisnis antara Bupati Robby dengan Yamanotona Basaro Lase, dalam ide pembangunan Mall dan Hotel bintang 4 yang telah dirancang rapi secara prematur, namun bocor ke publik sehingga berakibat semua skenario akan berantahkan,” tutur Petrus.*