JAKARTA, FLORESPOS.ID – Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere, di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, tahun ini merayakan 50 Tahun berdirinya.

Berbagai kegiatan digelar untuk memeriahkan perayaan emas lembaga pendidikan tinggi para calon imam Katolik terbesar dunia tersebut. Termasuk misalnya, pertandingan, perlombaan, talkshow, diskusi, bedah buku, dan simposium.

Hari ini, Jumat (6/9), perguruan tinggi yang menempati posisi ke-133 sebagai Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada tahun 2016 itu mengadakan simposium internasional kedua.

Simposium terakhir tersebut menghadirkan Prof. Dr. Azyumardi Azra (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 1998-2006) dan Pater Dr. Paul Budi Kleden (Superior General SVD) sebagai keynote speaker.

Berbagai tokoh hadir dalam simposium ini, antara lain, pimpinan Gereja, Biara, lembaga pemerintah, tokoh masyarakat, dan juga para mahasiswa dan alumni STFK Ledalero Maumere.

Ketua STFK Ledalero Maumere P. Dr. Otto Gusti Madung, SVD, pada acara pembukaan simposium membawakan pidato berjudul “Mereguk Pluriformitas sebagai Keinsafan Berbudi”.

Dalam pidatonya, Otto Gusti pertama-tama mengucapkan selamat datang kepada kedua pembicara karena telah berkenan hadir memberikan paparan akademik kepada segenap civitas academica STFK Ledalero.

Sebagaimana kita ketahui, kedua tokoh ini merupakan figur dua toko yang sangat sibuk. Namun di tengah kesibukan itu mereka meluangkan waktu untuk datang ke Ledalero, bukit tempat sandar matahari, untuk menyadarkan lembaga ini agar tetap memancarkan sinar dalam ziarah 50 tahun ke depan.

“Terima kasih sudah mengabulkan permintaan civitas academica STFK Ledalero untuk ikut memberikan warna akademik bagi perayaan mengenang 50 tahun berdirinya lembaga ini,” katanya.

Peran Publik Filsafat dan Teologi

Dalam paparannya, Otto Gusti mengatakan, kegiatan simposium tersebut memperlihatkan kontribusi STFK Ledalero dalam mewujudkan peran publik agama dan teologi demi mewujudkan bangsa Indonesia sebagai rumah yang human untuk setiap warganya.

Lebih jauh, lewat disiplin filsafat dan teologi (kontekstual) yang menjadi kekhasan lembaga pendidikan tinggi tersebut, simposium itu dapat memberikan kualitas baru guna menyelesaikan persoalan bangsa.

Otto Gusti menyebutkan beberapa fakta persoalan kekinian Indonesia, yakni kekayaan alam yang tidak membawa kemakmuran, kelimpahan penduduk tidak memperkuat daya saing, kemajemukan kebangsaan tidak memperkuat ketahanan budaya.

“Dan keberagamaan tak mendorong keinsafan berbudi,” imbuhnya.

Tentang SFTK Ledalero

Melansir laman resmi STFK Ledalero, diketahui bahwa sejak berdirinya tahun 1937 sampai tahun 1969, Lembaga Pendidikan ini menggunakan nama “Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero”.

Pada bulan Januari 1969, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik (STF/TK) Ledalero secara resmi berdiri sebagai salah satu bagian dari “Seminari Tinggi St. Paulus” Ledalero dan berdiri dengan Motto “Diligite Lumen Sapientiae”.

Dalam Sejarah Pendidikan Republik Indonesia sampai tahun 2016, oleh Kementrian RISTEKDIKTI mendapatkan peringkat ke-133 dari 3200 perguruan tinggi di Indonesia dan peringkat ke-2 perguruan tinggi di kawasan Nusa Tenggara Timur.

Pada tahun yang sama, lembaga yang mendidik ratusan calon imam dari berbagai konvlik ini memperoleh akreditasi B oleh BAN-PT dengan Nomor SK: 0790/SK/BAN-PT/Akred/PT/VI/2016.

Otto Gusti dalam paparannya menyebutkan, sesungguhnya umur STFK Ledalero sudah lebih tua dari 50 tahun karena kegiatan belajar mengajar filsafat dan teologi sudah berlangsung di Mataloko (kabupaten Ngada) sejak tahun 1932.

Sedangkan umur 50 tahun merujuk pada masa pengakuan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969.

Saat ini, mahasiswa yang kuliah di STFK Ledalero sekarang berjumlah 1187 orang dengan perincian 1005 mahasiswa S1 dan 161 orang mahasiswa Program Magister Teologi. Mahasiswa S1 terdiri dari Program Studi Filsafat dan Pendidikan Keagamaan Katolik.

Sebagian besar mahasiswa yang kuliah di STFK Ledalero adalah calon imam Katolik, yang berasal dari 16 biara atau konvik. Selain calon imam dan suster, juga terdapat 120 mahasiswa/i awam yang kuliah di STFK Ledalero.

Dalam sejarahnya yang panjang STFK Ledalero sudah menghasilkan 5800 alumni dengan perincian 19 orang uskup, 1822 imam dan 3978 (68,5%) awam. Sebanyak 500-an lebih di antaranya sedang bekerja sebagai misionaris Katolik di hampir seluruh wilayah di dunia.*