Duta seni asal NTT dalam ajang Pawai Budaya Nusantara 2018 di TMII Jakarta.
Duta seni asal NTT dalam ajang Pawai Budaya Nusantara 2018 di TMII Jakarta.

JAKARTA, FLORESPOS.ID – Tarian fatu kopa yang dipentaskan kelompok tari asal provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus. Penghargaan pertama untuk kategori Penyaji Tari Unggulan dan kedua untuk kategori Penata Rias/Busana Unggulan.

Tarian khas kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) itu disuguhkan dalam ajang Parade Tari Nusantara 2019 yang berlangsung di Garuda Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (10/08).

Adapun para penari yang mewakili provinsi NTT tersebut berjumlah 11 orang. Mereka adalah Ryan Purut, Trisno Djaha, Deny Saefatu, Joshua Daud, Adhis Luluporo, George Jola, Echa Tukan, Natal Sape, Keziallum Ratu, Lala Puteri, dan Thya Seme.

Sementara para pemusik yang meengiringi para penari, antara lain: Elldy Natonis, Rigen Genakalong, Mophy Wilhelmus, Randy Mekeng, Lidia Mapada, Lilo Dorlince Ladang Demang, Alfred, dan Andre Pada.

Angkat Legenda Nabi Nuh

Konseptor tari Jemmy Neolaka mengatakan, tarian tersebut merupakan bentuk story telling menggunakan bahasa tubuh dengan pesan-pesan moral sebagaimana terkandung dalam legenda fatu kopa (artinya: kapal karam).

Legenda fatu kopa sendiri dipercaya masyarakat kabupaten TTS sebagai kapal Nabi Nuh dalam Alkitab yang karam sejak masa evangelisasi. Fatu kopa sendiri merupakan sebuah bukit yang tepat berada di bawah kaki gunung Mutis.

Kisah fatu kopa sebenarnya mau mengingatkan manusia agar jangan terlena dengan dosa dan kesalahan, karena kiamat akan datang bila manusia terus tenggelam dalam dosa dan kelalaian.

“Saya memaknai tarian sebagai seni bercerita meenggunakan bahasa tubuh. Makanya tarian dengan tema fatu kopa ini sengaja saya buat seperti pentas teater dengan jalan cerita tersediri mulai dari pembuka, konflik, klimaks, dan penutup. Kita ini ingin menyampaikan pesan kepada para penonton tentang nilai di balik legenda fatu kopa,” katanya sebagaimana dikutip dari nttbangkit.com.

Dapat Apresiasi Tinggi

Pertunjukan tari anak-anak NTT ini mendapat sambutan dan apresiasi tinggi dari para juri dan penonton yang memadati anjungan Garuda tersebut.

Salah satu dewan juri menyatan, kekuatan para penari NTT terletak pada seni meramu cerita legenda ke dalam bentuk tarian neo-tradisional dengan balutan musik dan busana yang apik.

Pengakuan itu datang pula dari seorang penonton, Aida Ni’mah. Menurutnya, paket tarian yang dibawakan oleh para penari NTT membuat mereka seolah menonton sebuah film di bioskop.

“Kita rasanya kayak sedang ada dalam bioskop dan lagi nonton film gitu. Pokoknya keren deh. Sukses buat NTT,” ungkapnya.

Bangkitkan Ekosistem Seni

Penciptaan ekosistem seni penting untuk memajukan kreativitas dan inovasi kesenian, termasuk kesenian lokal berbasis cerita rakyat.

Pemimpin kontingen penari NTT Eldi Ange berharap, agar pemerintah provinsi NTT menaruh perhatian serius pada dunia seni, terutama untuk menyediakan platform di mana terjadi sirkulasi ruang kesenian daerah yang inklusif.

Eldi meyakini, cerita rakyat dan semua produk kebudayaan di NTT bisa memiliki nilai komersil apabila dirangkaikan dan sampaikan melalui seni, baik itu tari, teater, sastra, dan produksi kesenian lainnya.

“Kami berterimakasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT yang telah memfasilitasi kami semua sehingga bisa terlibat dalam acara bergengsi tingkat nasional, bahkan bisa memperoleh dua piala sekaligus. Semoga ini menjadi langkah awal bagi dunia seni NTT untuk eksis di tingkat nasional dan internasional,” tuturnya.