RUTENG, FLORESPOS.ID – Mulai 13 Juni mendatang, atau akhir pekan ini, Gereja Keuskupan Ruteng kembali dibuka.

Dengan pembukaan ini, maka kegiatan ibadah di Gereja dan Kapela di wilayah Keuskupan yang membawahi Manggarai Raya kembali digelar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Keputusan membuka katup aktivitas keagamaan ini merupakan kabar gembira di tengah kerinduan umat beriman untuk menghadiri perayaan Ekaristi, baik ekaristi harian maupun mingguan.

Selama kurang lebih empat bulan, seluruh umat beriman, tak terkecuali umat di Keuskupan Ruteng, menjalani olah kesalehan di rumah-masing atau di komunitas terdekat, tanpa banyak orang.

Adapun keputusan pembukaan ini sesuai dengan Instruksi Pastoral Uskup Ruteng Nomor 071/ II.1/ VI/ 2020 Tentang Pastoral dalam Normalitas Baru. Instruksi Pastoral tertanggal 8 Juni 2020 itu ditandatangi oleh Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat.

Instruksi tersebut merujuk Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor SE.15 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19 di Masa Pandemi.

Selain itu, juga merujuk pada Surat Gubernur NTT Nomor BU.440/ II/ Dinkes/ 2020 Tentang Penegas Persiapan New Normal, serta komunikasi dengan tiga pimpinan daerah dalam wilayah Keuskupan Ruteng berkaitan dengan pastoral dalam era “new normal”.

Merujuk pada tata aturan selama “new normal”, maka umat tetap diminta untuk mencuci tangan sebelum memasuki Gereja, mengukur suhu tubuh, memakai masker, jarak duduk antar umat dalam Gereja minimal satu meter (ke samping, ke muka dan ke belakang).

Sementara itu, Perayaan Ekaristi dan ibadat lainnya dirayakan dalam waktu yang singkat, tanpa mengurangi kemeriahannya.

Doa dan lagu pun didaraskan serta dikidungkan oleh pelayan liturgi dengan umat hanya mengikuti dalam hati atau maksimal dengan suara yang kecil.

Adapun “Salam Damai” tidak dilakukan dengan bersalaman seperti biasa, namun cukup dengan mengatupkan tangan di dada dan membungkuk satu sama lain.

Tambah Waktu Misa Hari Minggu

Menimbang bahwa perayaan ekaristi tidak mungkin melibatkan banyak umat, Uskup Ruteng meminta agar perayaan ekaristi Hari Minggu di paroki-paroki dan katedral perlu ditambahkan.

Tujuannya untuk mengakomodasi kehadiran umat dan selaras dengan protokol kesehatan jaga jarak sosial di gereja.

Sementara khusus untuk bayi, anak-anak, lansia, dan orang sakit diminta untuk mengikuti perayaan ekaristi dari rumah.

Selanjutnya, Keuskupan Ruteng bekerjasama dengan Dinas Kesehatan akan mengadakan rapid test bebas Covid-19 bagi Pastor Paroki dan Kapelan sebelum tanggal 13 Juni mendatang.

Setiap paroki pun diwajibkan bekerjasama dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Desa/Kecamatan/Kabupaten.

Untuk perayaan-perayaan sakramen lainnya dalam Gereja, misalnya Pembaptisan, Pernikahan, dan lain-lain, dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan, seperti memakai masker, jarak 1 meter, mencuci tangan dan jumlah umat maksimal 30 orang.

Pengecualian lainnya adalah bahwa untuk Misa Arwah dan Ibadat Pemberkatan Jenazah yang bukan pasien Covid-19, dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Sedangkan kegiatan-kegiatan pendampingan kelompok di Paroki seperti Sekami, OMK, dan kelompok rohani belum dapat dilakukan sambil menanti instruksi selanjutnya.

Adapun kegiatan ibadat dan kegiatan pastoral lainnya di Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Demikian halnya dengan sidang-sidang dan pertemuan pastoral dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan.*

Sumber: kitaindonesia.com