JAKARTA, FLORESPOS.ID – Masyarakat dan orang muda di kecamatan Wolowae, kabupaten Nagekeo (NTT) punya cara tersendiri dalam merayakan HUT RI ke-74 tahun ini. Salah satunya adalah dengan menggelar apel bendera kebangsaan di Pantai Wisata Kota Djogo, Desa Anakoli, Kec. Wolowae.

Menurut seorang warga Dusun Kobakua, Baltasar Daka, selain menggelar apel bendera, sebelumnya segenap masyarakat asal “Nusa Nipa” itu mengadakan Gerakan Sadar Potensi Wisata dengan melakukan Prosesi atau Parade Kebangsaan menuju tempat wisata Pulau Kinde di Desa Tendakinde, Wolowae.

Prosesi itu menggunakan 10 kapal sambil membawa 74 bendera Merah Putih untuk dikibarkan di Pulau Kinde. Di sana, para warga melakukan Tos Kenegaraan di Pantai Kinde.

Parade ini sebelumnya dibuka resmi oleh Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, pada Selasa (13/8) malam. Bupati Don sendiri merupakan putra Wolowae yang baru terpilih pada Pilkada Nagekeo tahun lalu.

Acara ini juga dinilai sebagai ajang untuk mempromosikan pariwisata di pesisir pantai bagian utara dari Kabupaten Nagekeo. Berbagai atraksi budaya, musik tradisional dan seni tari dipentaskan oleh orang muda di Kota Djogo.

“Luar biasa kita diberi berkat berlimpah tinggal dimanfaatkan oleh masyarakat desa,” kata Bal dalam unggahan akun Facebook-nya, Sabtu (17/8).

Masyarakat Wolowae menggelar apel bendera di Pantai Wisata Kota Djogo. Foto: Bal Daka.
Masyarakat Wolowae menggelar apel bendera di Pantai Wisata Kota Djogo. Foto: Bal Daka.

Kisah Kota Djogo dan Kinde

Mengutip ulasan Maksi Biaedae, konon, Kota Djogo diambil dari nama Djogo Warilla (mungkin ejaan Portugis yang benar Diogo Varela), yakni dua bersaudara yang bertualang dari Malaka ke Timur (Flores), Timor sampai Ambon.

Sareng Orin Bao (nama samaran unk P. Piet Petu, SVD) dalam laporannya berjudul “Nusa Nipa, Nama pribumi Nusa Flores”, (Nusa Indah Ende, 1964:30) menyinggung nama tersebut.

Dia menulis: “Setelah bertolak dari Malaka dan menyinggahi Nusa Djawa beliau tidak disambut. Karena itu pengembaraan dilanjutkan ke Doempandang di Sulawesi dekat kota Makasar. Dari Sulawesi beliau bertolak ke Nusa Nipa memperdirikan Kota Djogo dekat teluk Sinde (yang benar Kinde) bahagian pesisir utara Toto. Dari sana Djogo Warilla bertolak ke Sape.”

Sementara itu, bagi masyarakat Wolowae, atau biasa dikenal sebagai masyarakat Toto, Pulau Kinde punya kisah yang unik.

Belum lama ini, sebuah survei nasional dilakukan dengan maksud agar Pulau Kinde menjadi Beispil Project (proyek contoh nasional) untuk “Nomaden Tourism”.

Selain itu, Kinde juga menyimpan cerita heroik masa lalu masyarakat Wolowae. Kisah tersebut terutama berkaitan dengan tradisi berburu hewan liar.

Meski sekarang ini tradisi itu sudah mulai ditinggalkan, sebenarnya ada dua praktek kebudayaan yang sangat besar yang hilang di wilayah Toto dan sekitarnya yakni: pesta qurban (nama lokal pa, para, atau paya) dan tradisi berburu.

Pada pesta qurban, ratusan hewan dibunuh untuk menggelar suatu upacara atau seremoni adat. Upacara ini dibuat sebagai tebusan dosa-dosa sosial terhadap nenek moyang dan pelanggaran susila.

Sementara dalam tradisi berburu (nama lokal ndai, dai), selalu menjadi puncak bagi masyarakat Toto ketika puncak gunung Kinde dibuka untuk berburu. Berburu menjadi ajang kelaki-lakian dan kepahlawanan.

Estetika perburuan dipertontonkan dalam hiasan kuda, terutama ragam dari kekang kuda, rompi tebal dari anyaman daun sisal berwarna warni (nama lokal: dhuyu). Estetika puncak terlihat ketika kuda, penunggangnya dan tombak, dengan seluruh strategi dan taktik memburu rusa dipertontonkan.

Pulau Kiden di Wolowae, Nagekeo, NTT. Foto: Maksi Biaedae.
Pulau Kinde di Wolowae, Nagekeo, NTT. Foto: Maksi Biaedae.

Berburu menjadi tempat pemersatu di mana ada perkemahan (mayo) menjadi ajang perkenalan atau perundingan.

Pada tataran religiusitas, bagi masyarakat Toto, tradisi berburu ini seperti upacara Nyepi di Bali. Pada masa berburu tidak boleh ada asap mengepul di dapur. Semua berpuasa di siang hari, kecuali anak-anak. Pertengkaran, saling caci maki pun dilarang.

“Semoga dengan agenda pariwisata nasional ini, nilai-nilai yang tersembunyi di balik praktek budaya di wilayah ini bisa diungkit lagi,” kata Maksi, Sabtu (17/8).

Ajang Promosi Wisata

Eksplorasi wilayah utara kabuaten Nagekeo ini sejalan dengan program strategis Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo yang gencar mempromosikan obyek wisata pesisir pantai bagian utara yang masih tersembunyi.

Diketahui, pantai pasir putih di sepanjang bagian utara dari Kabupaten Nagekeo sangat unik. Saat ini Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo terus mempromosikan keunikan Pulau Kinde. Pulau Kinde merupakan pulau mungil yang berada di tengah laut.

Adapun obyek wisata di pantai utara Nagekeo tersebut didominasi oleh pantai berpasir putih serta pantai pink, misalnya Pantai Pink Rii Ta, Pantai Pasir Putih Kota Djogo, Pantai Pasir Putih Nangateke serta Tanjung Todo serta Pulau Kinde.

Masyarakat dan orang muda Wolowae di Kab. Nagekeo melakukan Parade Kebangsaan dari Pantai Wisata Kota Djogo hingga Pulau Kinde. Foto: Bal Daka.
Masyarakat dan orang muda Wolowae di Kab. Nagekeo melakukan Parade Kebangsaan dari Pantai Wisata Kota Djogo hingga Pulau Kinde. Foto: Bal Daka.

Belum lama ini Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melakukan survei awal tentang potensi pariwisata di Pulau Kinde dengan melibatkan konsultan pariwisata dari Institute Teknologi Bandung (ITB).

Adanya Parade Kebangsaan dari Pantai Kota Djogo ke Pulau Kinde tentu sesuai dengan design yang disampaikan tim konsultan Pariwisata ke Kabupaten Nagekeo.*