Pulau Flores terbagi menjadi delapan kabupaten. Untuk mengenal lebih jauh isi dari pulau yang masuk dalam jalur peta pengamatan burung di dunia ini, FLORESPOS.ID akan mengulas profil setiap kabupaten. Mari kita mulai dengan Kabupaten Manggarai Barat.

Jika hanya mendengar nama Manggarai Barat saja, mungkin tidak ada yang kenal. Bagaimana dengan Labuan Bajo? Ya, ibukota Kabupaten Manggarai Barat adalah Labuan Bajo. Awalnya, Manggarai Barat satu kabupaten dengan Manggarai namun pada tahun 2006 memisahkan diri.

Melihat letak geografisnya, kabupaten ini dikelilingi oleh laut dan terletak paling ujung dari Kepulauan Flores. Wilayah utara berbatasan dengan Laut Flores, wilayah selatan oleh Laut Sawu, wilayah barat oleh Selat Sape, dan wilayah timur oleh Kabupaten Manggarai.

Tidak hanya dibangun dari daratan seluas 2.947,5 kilometer persegi, beberapa pulau besar seperti Pulau Komodo, Rinca, dan Longos juga menjadi bagian wilayah Manggarai Barat. Daya tarik alam yang dihibahkan secara cuma-cuma dari Tuhan ini menyebabkan sektor pariwisata Manggarai Barat mulai dikenal di kancah internasional.

Meskipun pariwisata Manggarai Barat merangkak naik, tulang punggung kabupaten dengan proyeksi penduduk 2015 sebesar 251.689 jiwa ini masih mengandalkan sektor konvensional yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sektor yang berkaitan dengan pariwisata secara nominal belum memberikan kontribusi yang signifikan.

Distribusi persentase Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di 2015 mencapai 42.36%. Tidak heran apabila kemudian sektor tersebut berhasil menyerap jumlah tenaga kerja sebesar 78.537 orang.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Manggarai Barat pada 2015 tercatat 4,14% atau naik 0,52% dari tahun sebelumnya. Bila disandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Flores, Manggarai Barat termasuk kabupaten termiskin. Di atas Manggarai Barat terdapat Kabupaten Flores Timur dengan pertumbuhan 4,3%, Kabupaten Nagekeo dengan pertumbuhan 4,65%, dan Kabupaten Ngada dengan pertumbuhan 4,86%.

Hal ini yang kemudian berpengaruh pada tingkat kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Manggarai Barat pada 2015 mencapai 50,98 ribu orang atau 20,12% dengan garis kemiskinan sebesar Rp 263.746 per orang per bulan. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri mencatatkan garis kemiskinan Rp 307.224 per orang per bulan.

Profil penduduk miskin Manggarai Barat ini mengalami trend kenaikan. Pada 2013 jumlah penduduk miskin sebesar 44,10 ribu jiwa kemudian naik menjadi 42,55 ribu jiwa di 2014. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Manggarai Barat pun menduduki peringkat ke-15 dari 22 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi NTT dengan IPM sebesar 60.04.

Mudahnya, IPM adalah indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian pembangunan manusia dengan melihat sejumlah komponen dasar kualitas hidup seperti pendidikan, tingkat kesehatan, dan tingkat kemiskinan. Di Pulau Flores sendiri, peringkat IPM tertinggi dimiliki oleh Kabupaten Ende dengan peringkat 2 melalui indeks 65.54. * (E.K)