LABUAN BAJO, FLORESPOS.ID – Pemerintah memastikan ada lima negara asing yang bersaing menjadi operator bandara internasional Komodo Labuan Bajo, di kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Hal itu dilakukan pemerintah melalui skema pelelangan dan market sounding untuk memoles Labuan Bajo makin diminati dan menjadi daya tarik wisata asing.

“Yang ikut lelang ada puluhan (beberapa diantaranya) dari Perancis, Australia, Singapura, Jepang, Korea, sudah terpilih satu nanti akhir Oktober,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Kamis (3/10), mengutip detik.com.

Budi Karya menambahkan, dengan memberikan operasi bandara ke operator internasional diharapkan bandaranya jadi berkualitas dunia. Selain itu, diharapkan jaringan wisatawan operator dapat juga masuk ke Indonesia.

“Pertama kali bandara di Indonesia diterapkan oleh internasional, supaya apa? Supaya bandaranya cantik kualitasnya internasional, dan juga bisa dapat link konektivitas internasional,” katanya.

Pemerintah sendiri setidaknya membutuhkan dana hingga Rp3 triliun untuk mengembangkan Bandara Komodo hingga mengoperasikannya.

Angka itu terbagi dalam kebutuhan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 1,17 triliun dan untuk biaya operasional (operational expenditure) sebesar Rp 1,83 triliun.

Diumumkan Lebih Cepat

Dalam pemberitaan terbaru, Menteri Budi Karya mengungkapkan hingga kini masih belum ada pihak yang lolos lelang operator Bandara Komodo di Labuan Bajo.

“Belum (diputuskan). Kita lagi proses finalisasi mungkin satu minggu mendatang kita umumkan,” katanya di kantor BKPM, Jakarta, Senin (7/10), mengutip detik.com.

Ia mengatakan waktu pengumumannya pelelangan Bandara Komodo akan dijadwalkan lebih cepat, yaitu pada tanggal 10 atau 11 Oktober pekan ini.

“Ya nanti waktu pengumuman tahu berapa yang lolos. Mungkin 10 atau 11 Oktober (pengumumannya),” terangnya.

Publik heboh karena ditengarai konsorsium alias perusahaan patungan antara perusahaan Singapura, Changi Aiports International Pte Ltd dan perusahaan Indonesia PT Cardig Aero Service menjadi pemenangnya.

Menteri Budi Karya memastikan, pemenang pelelangan tersebut tentu harus sesuai komitmen pemerintah, yaitu investor atau konsorsium yang bekerja melalui skema Kerjasama Pemerintah-Badan Usaha (KPBU).

Ia pun masih menampik kabar santer yang hari-hari terdengar di telinga publik yang mengatakan pemenangnya adalah perusahaan asal Singapura dan Indonesia itu.

Lewat Market Sounding

Tahun lalu, Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) bersama dengan Kementerian Perhubungan menggelar market sounding atau penjajakan pasar dengan mengumpulkan sekitar 150 calon investor dan konsultan.

Plt. Deputi Bidang Penanaman Modal BKPM Wisnu Wijaya Soedibjo menjelaskan, acara tersebut digelar sebagai tahap awal untuk memperkenalkan proyek pengembangan Bandara Komodo kepada para calon investor.

“Manfaatnya tidak hanya bagi pemerintah, pemilik proyek, tapi juga pasar atau calon investor karena dapat informasi proyek jauh sebelum proses tender,” tuturnya.

Perluasan Bandara

Bandara Komodo sendiri rencananya akan dikembangkan mulai dari perpanjangan runaway menjadi 200 meter, pelapisan jalur runaway, perluasan terminal kedatangan, terminal cargo dan fasilitas-fasilitas lainnya.

“Kami harap bandara ini bisa menunjang fasilitas yang berkualitaa untuk turis manca negara,” tutur Wisnu.

Investor akan mendapatkan pengembalian investasi dari tarif yang dihasilkan. Untuk masa konsesi yang didapat mencapai 25 tahun.

“Pemerintah juga memberikan penjaminan risiko melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia,” tambahnya.

Simak video berikut: