JAKARTA, FLORESPOS.ID – Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya satu proses. Sampah dikategorikan dalam dua jenis, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

Pada saat ini keberadaan sampah adalah masalah yang mengganggu keberlangsungan hidupan manusia, dan menjadi sumber penyakit bagi manusia itu sendiri.

Keberadaan sampah kadangkala dianggap sepele oleh manusia.

Di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri masalah sampah bukan lagi menjadi masalah baru. Kurangnya kepekaan masayarakat NTT akan kebersihan lingkungan masih sangat minim.

Hal itu dapat terlihat di kota Kupang, di mana populasi sampah yang berserakan sangat banyak, bahkan sampah sering sekali bertumpukan di pinggir-pinggir jalan.

Salah satunya dapat kita lihat keberadaan sampah yang berserakan di ruas jalan penghijauan Desa Penfui Timur.

Di sana kita jumpai tumpukan sampah yang sangat mengganggu dengan bau yang begitu menyengat.

Tercemarnya udara di daerah ini malah membuat masyarakat setempat bersikap seolah acuh taka acuh dengan keberadaan lingkungannya yang semakin hari semakin tercemar.

Entahkah masyarakat setempat yang seolah kaku, tidak punya kesadaran untuk menjadikan tempat yang kerap kali disebut penghijauan itu; kemudian disalahartikan menjadi menjadi kebalikannya.

Sebagai kaum intelektual, seharusnya masalah ini menjadi salah satu tantangan bagi kaum intelek untuk membantu menjaga lingkungan tersebut.

Sampah sengaja dibuang ditempat umum tersebut? Ah, kan ada petugas kebersihan yang akan mengangkat sampah ini.

Lantas sampai kapan kota Kupang yang kerap kali dijuluki kota karang ini akan seperti ini. Jika pemerintah belum sempat untuk mengatasi masalah ini kemana masyarakat setempat?

“Jangan membuang sampah ditempat ini!”, apakah tulisan ini hanya menghiasi tempat itu?Bukankah setiap tulisan memiliki arti? Lalu apa arti dari tulisan tersebut?

Faktanya, di tempat itu tertera jelas tulisan tersebut. Malah sampah berserakan kian hari kian menumpuk.

Karena itu, kita perlu membuat definisi baru tentang narasi penghijaun yang didengungkan pemerintah; bukan tempat membuang sampah, tapi penghijauan seharusya sesuai dengan makna aslinya.

Jika kita masih membiarkan sampah berserakan terus menerus, apa yang terjadi 5 tahun ke depan? Mungkinkah penghijauan Penfui, bukan saja menjadi lautan sampah malah menjadi hamparan samudra sampah.

Lantas, siapa yang salah untuk masalah ini? Dan apakah baik bagi kesehatan masyarakat setempat? Bukankah mengganggu polusi udara dengan bau sampah yang menyengat tersebut?

Kemarin, melansir berita dari Pos Kupang online, Kota Kupang menempati urutan pertama penderita HIV/AIDS terbanyak di Provinsi NTT.

Menurut data Dinas Kesehatan Kota Kupang, jumlah penderita HIV/AIDS di Ibu Kota Provinsi NTT itu per Juli 2019 mencapai 1.509 orang, dengan 1.069 merupakan penderita HIV dan sisanya, 440 penderita AIDS.

Dengan data-data ini, menunjukkan pergerakan yang buruk terhadap wajah ibukota provinsi NTT tersebut. Sampah, HIV/ADIS, dan lain-lain menjadi tumpukan yang saling kait mengait.

Sejauh mana peran pemerintah di kota ini. Akan dibawa kemana kota yang sudah karang ini di masa depan.

*Artikel ini ditulis oleh Yohana Grace Kurniawati, mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT.