MAUMERE, FLORESPOS.ID – Mentari semakin tinggi, teriknya menyengat pria berkulit kuning langsat di sebuah lapak kecil pasar darurat, mungkin tidak layak dikatakan pasar, di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Maumere, di Kabupaten Sikka, Flores.

Pria kuning langsat itu adalah Siprianus Manek atau akrab disapa koko Ephy. Ia berusia 35 tahun dan merupakan lulusan STFK Ledalero, Maumere tahun 2014 lalu.

Sudah beberapa tahun ia merintis sebuah usaha kecil di Kota Maumere. Namanya Nian Tana Kafé, terletak di berada di Jln. Soekarno Hatta, Maumere.

Sebelumnya, lapak ini berada di Kecamatan Nita, berdekatan dengan kampus STFK Ledalero. Hal yang memungkinkan teman-teman kelas, juga kakak dan adik kelasnya menjadi pelanggan setia lapaknya.

Nian Tana Kafé boleh dibilang merupakan satu-satunya lapak penjualan Se’i Babi Panggang khas Timor di kota Maumere. Patut diakui, bahwa sajian makanan khas orang Timor ini bila diolah orang-orang Timor asli, rasanya tak ada duanya.

Ephy sendiri sudah jatuh cinta pada tanah Maumere, meski ia berasal dari Kupang, ibukota Provinsi NTT. Dan mungkin nantinya ia juga berjodoh dengan salah satu perempuan Maumere, karena saat ini ia masih bujang.

Nasib naas menimpa dirinya, sama seperti pelaku ekonomi kreatif lainnya di seluruh dunia, ketika pandemi virus corona merebak, termasuk di Kabupaten Sikka.

Lapak miliknya tak lagi beroperasi. Aturan jaga jarak sosial, pembatasan aktivitas dan menghindari kerumunan, membuat lapaknya sepi pengunjung.

Agar dapur tetap mengepul, mantan biarawan SVD ini tak habis akal. Ia balik badan dengan menjual masker wajah di TPI Maumere. Mulai pukul 06.00-10.00 WITA di rela menjerang diri di bawah mentari.

Sebagaimana protokol kesehatan, masker wajah merupakan salah satu alat untuk menghindari penularan dan penyebaran virus corona.

Kepada penulis, ia menuturkan bahwa penjualan masker tersebut tidak semata-mata untuk mencari keuntungan atau mengais rejeki, tapi yang lebih penting adalah membantu orang-orang agar mendapatkan masker dengan mudah.

Ketika melihat masyarakat yang kurang mampu, seperti pedagang kaki lima, tukang parkir, tukang ojek atau ibu-ibu penjual ikan, ia bahkan memberikan masker secara gratis.

Ini merupakan bukti tindakan pertolongan paling nyata ketika ada sesama yang paling membutuhkan tapi mereka tak memiliki cukup uang untuk membelinya.

Siprianus Manek, akrab disapa Ephy, adalah pelaku ekonomi kreatif di Kota Maumere. Ia mendirikan Nian Tana Kafe sejak beberapa tahun silam. Foto: Ephy/Facebook.
Siprianus Manek, akrab disapa Ephy, adalah pelaku ekonomi kreatif di Kota Maumere. Ia mendirikan Nian Tana Kafe sejak beberapa tahun silam. Foto: Ephy/Facebook.

Jualan Online

Naluri dagang pria berdarah Tionghoa ini tak surut meski lapaknya ditutup. Memanfaatkan teknologi digital, ia tetap merawat agar dapur lapak tetap mengepul.

Selain menjual masker, ia pun tidak mengurangi aktivitas di lapaknya. Bersama beberapa karyawan, ia berinisiatif untuk melakukan penjulana Se’i Babi secara online.

Adapun di lapaknya, ada lima karyawan dengan latar belakang hidup yang sulit di tengah pandemi ini. Mayoritas ereka telah berkeluarga dan menjadi tulang punggung keluarga.

Hati kecilnya tak sudi memberhentikan teman-teman kerjanya. Agar asap yang sama juga tetap mengepul di dapur keluarga meerka, ia meminta rekan kerjanya tetap masuk dan membanting setir dengan menjulanya melalui platform online.

Berbekal kemampuan mumpuni, mereka pun membuat tempe, tahu goreng, ikan bakar, sayuran dan menu lainnya yang akan diantar setelah dipesan melalui media sosial.

Beberapa sahabatnya yang tinggal di kos-kosan dan tidak pulang kampung karena pandemi, turut membantunya membuat makanan untuk dijual secara online ataupun menggunakan sepeda motor untuk mengantar orderan.

Hasil olahan mereka biasanya dijual kepada keluarga atau orang-orang yang lebih mapan secara ekonomi di Kota Maumere dan sekitarnya.

“Kadangkala mereka memberikan lebih sebagai wujud bela rasa terhadap kami. Hasil jualan kami bagi secara adil untuk membiayai kehidupan kami di kos,” ungkap Odhan, mahasiswa semester VI STFK Ledalero asal Manggarai Timur.

Doa: Sumber Kekuatan

Sebagai orang beriman dan juga mantan calon imam, doa bagi Ephy adalah kekuatan yang mendorong harapan dalam hidup manusia, apalagi tatkala krisis melanda.

Selain berdoa secara pribadi di rumahnya, alumnus STFK Ledalero tahun 2014 ini memupuk kekuatan spiritualnya dengan berdoa bersama rekan kerjanya di lapak mereka.

Bahkan ketika otoritas Gereja menghentikan perayaan misa di gereja/kapela dan menganjurkan untuk mengikuti misa secara online, Ephy dan teman-temannya selalu menyisihkan waktu untuk mengikuti Misa live streaming dari lapak.

Spiritualitas doa telah ditanamnya sejak lama, yaitu sejak ia menjadi siswa senimari. Roh itu terus dipeliharanya meski ia telah memilih menjadi awam-biasa.

Ephy meyakini bahwa Tuhan itu tidak pernah tidur. Dalam pepatah orang Jawa: Gusti Ora Sare. Sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa Tuhan senantiasa merawat umat-Nya.

Ia menyadari bahwa apa yang dibuatnya semasa pandemi bukanlah hal yang luar biasa. Tetapi hanya tindakan kecil dari sebuah pemberian diri dan nyala cinta.

“Anda boleh kehilangan segalanya tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam diri anda yakni semangat,” demikian kata motivator terkenal Indonesia, Mery Riana.*

Penulis: Dan Dede