LABUAN BAJO, FLORESPOS.ID – Sampah menjadi masalah klasik di Labuan Bajo, karena serakannya yang kian besar, baik di wilayah perairan (laut) maupun di pesisir pantai dan daratan.

Sejak dibuka menjadi salah satu kawasan pariwisata strategis nasional, sampah kian tumpuk di sepanjang jalur pantai Labuan Bajo. Entah dari mana datangnya, tidak ada tahu.

Kondisi itu juga ditemukan di gang-gang sekitar Kampung Ujung, kawasan kuliner tak jauh dari pelabuhan dan marina Labuan Bajo. Sampah plastik berserakkan di tepian jalan, sementara jumlah tong sampah tidak ditemukan.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatat produksi sampah di kabupaten yang terbentuk pada 2003 itu kini hampir 14 ton per hari. Padahal, volume sampah tahun 2018 masih 12,8 ton per hari.

Diduga kuat, sampah itu tidak hanya berasal dari barang bekas konsumsi rumah tangga masyarakat, tapi juga dari restoran dan hotel dan homestay yang berjejer di sepanjang garis pantai.

Termasuk bersumber dari banyaknya kapal barang dan kapal pesiar yang membuang sampahnya di tengah laut lalu terbawa arus ke pesisir pantai.

Salah satu pantai yang menjadi tempat bermuaranya tumpukan sampah adalah Pantai Werana, yang terletak persis di sebelah barat Hotel Ayana yang baru dibangun tahun 2017.

Dampak Pariwisata

Boleh dikatakan, problem sampah di ujung barat Pulau Flores tersebut tidak lepas dari dampak perkembangan pariwisata yang begitu pesat sejak program Sail Komodo dibuka mulai 2013. Setahun kemudian, jumlah wisatawan meningkat tajam.

Penetapan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 Destinasi Bali Baru—objek wisata yang potensial menjadi seperti Bali—pada 2016 semakin membuat jumlah pelancong terakselerasi.

Jika pada 2013, jumlah turis domestik dan mancanegara 44.579 orang, maka lima tahun kemudian jumlahnya sudah 163.807 orang.

Masalah sampah ini sempat mengusik Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

BPIW selama ini merancang infrastruktur pendukung di 12 kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN). Labuan Bajo salah satunya, dengan anggaran infrastruktur pendukung pariwisata dari APBN sekitar Rp1 triliun pada 2020.

“Jika masalah sampah tidak ditangani baik, maka percuma pemerintah membangun infrastruktur pendukung pariwisata di sini,” katanya akhir bulan lalu, mengutip bisnis.com.

Karena itu, pemerintah setempat dan masyarakat sekitar perlu membuka mata agar segera menangani problem ini agar tidak mengganggu kinerja pembangunan wisata Labuan Bajo.*