JAKARTA, FLORESPOS.ID – Presiden Joko Widodo menyampaikan alasan pemerintah tidak menetapkan kebijakan lockdown seperti negara-negara lain di dunia dalam menghadapi dan menekan penyebaran virus corona (Covid-19).

“Kemudian kenapa ada yang bertanya kenapa kebijakan lockdown tidak kita lakukan, perlu saya sampaikan setiap negara memiliki karakter, budaya, kedisplinan yang berbeda-beda, oleh karena itu kita tidak memilih jalan itu,” katanya dalam rapat terbatas dengan seluruh perangkat pemerintah di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (24/3).

Rapat terbatas bertemakan “Pengarahan Presiden kepada Para Gubernur Menghadapi Pandemik Covid-19” itu dilakukan melalui video konferensi bersama dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, para menteri Kabinet Indonesia Maju dan 34 Gubernur se-Indonesia.

Jokowi menekankan, strategi yang cocok diterapkan di Indonesia adalah dengan menjaga jarak fisik antar individu masyarakat alias physical distancing (bukan social distancing).

“Jadi yang paling pas di negara kita physical distancing menjaga jarak aman. Kalau hal itu bisa kita lakukan, saya yakin kita bisa mencegah penyebaran COVID-19 ini,” tuturnya.

Untuk itu, salah satu presiden terbaik dunia itu meminta kedisplinan dan ketegasan yang kuat dari semua masyarakat untuk mentaati himbauan pemerintah.

Adapun negara-negara yang sudah menerapkan lockdown antara lain: China (Provinsi Hubei dan kota-kota di sekitarnya), Italia, Spanyol, Prancis, Irlandia, El-Salvador, Belgia, Polandia, Argentina, Yordania, Belanda, Denmark, Malaysia, Filipina, dan Libanon.

686 Kasus di Indonesia

Laporan resmi pemerintah per Selasa (24/3) sore menyebutkan bahwa Indonesia sudah menderita 686 kasus positif corona, dengan 55 orang meninggal dan 30 lainnya sembuh.

Secara global, virus Corona telah menyebar di sekitar 189 negara. Hingga hari ini tercatat ada 381.462 orang, dengan 16.550 meninggal dan 102.423 orang sembuh.

China menderita 81.171 kasus, Italia 63.927 kasus, Amerika Serikat 46.116 kasus, Spanyol 35.136 kasus, dan Jerman 29.056 kasus.

Jumlah kematian tertinggi bahkan saat ini terjadi di Italia, yaitu sebanyak 6.077 orang, disusul China 3.277 orang, Spanyol 2.311 orang, Iran 1.812 orang dan Prancis 860 orang.*

Sumber: tempo.co