JAKARTA, FLORESPOS.ID – Komunitas Perempuan Manggarai (KPM) mengelar Festival Budaya Manggarai perdana di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Sabtu-Minggu, 17-18 Agustus 2019. Selain ingin memeriahkan perayaan HUT ke-74 Kemerdekaan RI, festival ini bertujuan menjadikan budaya Manggarai menjadi bagian dari produk kesenian ibukota.

Menurut Ketua Panitia Festival Emiliana, festival yang mengangkat produk-produk kebudayaan dan kearifan lokal Manggarai di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mendapat sambutan hangat dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Gubernur Anies sendiri menaruh minat yang besar pada kebudayaan Manggarai. Selain karena latar historis bahwa ada kampung Manggarai di Jakarta, ada kesamaan gagasan antara KPM dengan Gubernur Anies.

Salah satu kesamaan gagasan tersebut adalah ketika Gubernur Anies mengganti nama program “One Karcis One Trip” (OK Otrip) dengan nama “Jak Lingko” yang memiliki arti “Jakarta Berjejaring”.

Nama “Lingko” ini diambil dari bahasa Manggarai yang artinya “jaring laba-laba”. Di Manggarai, selain ada tarian Lingko yang menerangkan tentang falsafah kerja berjejaring, ada pula satu destinasi wisata lokal berupa sawah jaring laba-laba yang terletak di Cancar, kabupaten Manggarai.

Program ini dimaksudkan untuk menjadikan “Jak Lingko” sebagai induk dari integrasi transportasi publik di Jakarta, di mana bus kecil, medium, besar berjejaring akan terintegrasi dengan transportasi massal.

Termasuk misalnya transportasi berbasis rel seperti Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT) dan commuter line serta transportasi berbasis Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta.

Tarian “Lingko” sendiri, kata Ibu Emi yang adalah karyawan pada PT Sinarmas APP, akan dipentaskan pada hari kedua festival, Minggu (18/8), bersamaan dengan kehadiran Gubernur Anies ke gelaran festival.

“Besok (hari ini), saya akan bicarakan soal konsep itu dengan Pak Gubernur,” katanya di TMII Jakarta, Sabtu (17/8).

Melihat antusiasme dan kesamaan gagasan inilah, KPM berniat menggandeng Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan festival budaya ini menjadi bagian penting dari produk kesenian Jakarta. Misalnya dengan mementaskannya di Senayan atau di Monumen Nasional (Monas) sebagai bentuk keikutsertaan masyarakat Manggarai dalam perayaan HUT Jakarta.

“Dan saya harapkan ini bisa jadi event tahunan. Dan manajemen Taman Mini sendiri sudah masukkan ke dalam agenda mereka,” ungkapnya.

Selanjutnya, Ibu Emi pun berharap agar kerjasama yang baik dengan semua pihak, termasuk dengan masyarakat Manggarai diaspora dan lembaga-lembaga donor, festival ini sebagai salah satu produk kesenian yang bisa tampil di panggung internasional.

Bpk. Goris Mere diminta menjadi salah satu pemukul dalam pentas Caci pada Festival Budaya Manggarai di TMII. Foto: Florespos.id/Daniel Deha
Bpk. Goris Mere diminta menjadi salah satu pemukul dalam pentas Caci pada Festival Budaya Manggarai di TMII. Foto: Florespos.id/Daniel Deha

Jadikan Globalisasi sebagai Peluang

Ibu Emi menandaskan, dalam konteks khusus, festival ini bertujuan untuk mewariskan kekayaan budaya Manggarai yang saat ini dianggap perlahan menghilang dari kehidupan generasi muda.

Karena meski sebagai kaum diaspora yang hidup pada pusaran kosmopolitan global, kebudayaan menjadi entitas yang menandai identitas kehidupan masyarakat kapan dan di manapun mereka berada.

Pada pendirian itulah gelaran festival yang menelan dana sekitar Rp300 juta ini diadakan untuk memanggil pulang masyarakat Manggarai untuk melihat peluang-peluang yang dapat dicapai dari efek globalisasi budaya yang kian menjamur.

“Kita melihat budaya-budaya kita mulai dilupakan. Globalisasi mestinya kita pakai sebagai peluang”, terangnya.

Menurutnya, jika berbicara tentang kebudayaan, maka akan ada banyak falsafah hidup yang dapat dijadikan kekayaan dan warisan kepada generasi berikutnya.

“Ini kan skalanya sudah Jakarta, tapi yang penting kita akan mengeksplorasi kekayaan budaya dalam skala yang lebih luas dalam konteks panggung internasional,” harapnya.

Hal yang sama ditegaskan Ketua KPM Josefina Syukur, yang mengatakan, pementasan budaya dengan menampilkan keberagaman seni tari, musik, dan kerajinan lokal asal Manggarai menunjukkan bahwa budaya Manggarai dan globalisasi bisa berjalan beriringan.

“Kita tetap mempertahankan budaya untuk menjawab tantangan globalisasi. Budaya sebagai akar. Budaya asli harus dipertahankan supaya kita tidak terombang ambing,” katanya.

Karena itulah festival perdana ini mengusung tema “Kearifan Budaya Manggarai Dalam Era Globalisasi” untuk menandai pentingnya identitas kebudayaan setiap komunitas masyarakat dalam pusaran globalisasi saat ini.

Itu berarti, kebudayaan Manggarai dapat dibawa ke mana saja, termasuk di Jakarta dan lingkup internasional. Di sana kebudayaan asli ini bersinergi bersama kebudayaan lain.

“Orang Manggarai bilang, ke mana kamu pergi di situ tanah dijunjung tapi tidak berarti kita melepaskan kebudayaan sendiri. Justru di Jakarta kita harus semakin mempertahankan kebudayaan kita karena seperti orang Manggarai juga bilang: neka oke kuni agu kalo (artinya: Jangan lupa tempat darimana kita berasal),” terangnya.

Para pemain bersiapa-siap mementaskan tarian Caci pada Festival Budaya Manggarai di TMII. Foto: Florespos.id/Daniel Deha
Para pemain bersiapa-siap mementaskan tarian Caci pada Festival Budaya Manggarai di TMII. Foto: Florespos.id/Daniel Deha

Tampilkan Ragam Kesenian dan Produk Lokal

Adapun festival yang digelar dalam kerjasama dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini menampilkan ragam kesenian dan produk lokal Manggarai yang terhimpun dalam tiga kategori utama, yaitu Pentas Seni dan Budaya, Parade Kuliner dan Pasar Manggarai.

Dalam kategori Pentas Seni dan Budaya ada beberapa mata kegiatan yang dipentaskan, antara lain: tarian Caci, tarian Ndundu Ndake, tarian Rangguk Alu, Sanda Danding, Mbata, Operet, Teater Lingko Ammi (“Taki Mendi”), dan Fashion Show Kreasi Tenunan Manggarai.

Sementara dalam kategori Parade Kuliner, ada sajian kopi Manggarai, Gola Wara, Latung Bose, Saung Ndusuk, Komping, Rebok, dan makanan khas Manggarai lainnya.

Akhirnya, dalam kegiatan Pasar Manggarai, disajikan aneka tenunan Manggarai dan souvenir khas Manggarai.

Beberapa acara yang sudah ditampilkan pada Sabtu (17/8), antara lain: Tarian Caci, Ndudu Ndake, Danding, Sanda, Mbata, dan Teater Lingko Ammi dengan judul “Taki Mendi”, sebuah catatan perbudakan di tanah Batavia.

Sementara pada hari ini, Minggu (18/8), tarian Caci bakal dipentaskan lagi sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Selain itu, ada suguhan istimewa buat Gubernur Anies dari masyarakat Manggarai berupa tarian Lingko.

Sebagaimana diketahui, festival ini diinisiasi KPM dalam kerjasama dengan beberapa komunitas masyarakat Manggarai Jakarta, termasuk Komunitas Sanggar Ca Nai Kalimalang dan Ikatan Keluarga Manggarai Kebon Jeruk Jakarta (IKMKJ) yang mementaskan tarian Caci.

Sementara, ribuan masyarakat Manggarai diaspora, termasuk juga warga ibukota lainnya, memenuhi anjungan NTT TMII sepanjang dua hari kegiatan. Mereka tidak hanya orang-orang tua dan dewasa, tetapi juga anak-anak muda dan pelajar yang ingin menyaksikan langsung bagaimana tradisi kebudayaan mereka dipentaskan di ibukota.

Para pemain Teater Lingko Ammi foto bersama dengan para tokoh asal Manggarai pada Festival Budaya Manggarai di TMII. Foto: Florespos.id/Daniel Deha.
Para pemain Teater Lingko Ammi foto bersama dengan para tokoh asal Manggarai pada Festival Budaya Manggarai di TMII. Foto: Florespos.id/Daniel Deha.

Tentang KPM

KPM didirikan pada 21 Oktober 2017 oleh 22 orang perempuan Manggarai. Anggaran Dasarnya tertuang dlm Akta Notaris No. 1 tahun 2018 dan disahkan serta terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. KPM memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan melapor serta membayar pajak.

KPM dibentuk dengan gagasan untuk menaruh perhatian pada bidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi dan kerohanian masyarakat Manggarai diaspora.

Saat ini anggota KPM berjumlah 45 orang, yang semuanya adalah perempuan yang mempunyai komitmen tinggi pada pembangunan. Anggotanya juga tersebar, tidak hanya di Jabodetabek, tetapi juga ada di Amerika Serikat, Aceh, Malang.

KPM sebenarnya belum banyak dikenal oleh masyarakat Manggarai diaspora karena baru berumur 2 tahun. Namun, adanya festival perdana ini, membuka mata masyarakat Manggarai lainnya tentang adanya komunitas ini.

Selama ini, KPM setidaknya telah mengadakan dua kegiatan penting sebagai platform untuk menjalankan komitmen sosial, budaya dan ekonominya.

Tahun lalu, dalam rangka merayakan HUT perdananya, KPM menyelenggarakan pernikahan massal bagi pasangan muda asal Manggarai di Jakarta.

Sementara pada Mei kemarin, bertepatan dengan Hari Kartini, KPM menggelar bazar untuk menghimpun dana beasiswa bagi mahasiswa Manggarai yang punya kemampuan akademisnya tetapi ekonominya tidak mampu.*