Jakarta, Florspos.id – Forum Mahasiswa dan Pemuda Ngada (Formapena) Jabodetabek menyatakan polling online yang dilakukan terhadap beberapa bakal pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Ngada 2020 adalah sebentuk pembodohan publik dan penggiringan opini.

Ketua Umum Formapena Jabodetabek Emilianus Kadju secara tegas mengatakan, polling online yang dilakukan menyongsong Pilkada Ngada 2020 adalah sebuah kebodohan metodologis.

“Bagaimana bisa mengukur popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas dari para bakal calon di Ngada menggunakan sistem online sedangkan populasi dan samplingnya tidak ada. Bahkan orang yang bukan asal Ngada pun bisa ikut memilih sejauh mereka online,” katanya.

Menurut Emild, polling online tersebut memiliki beberapa cacat bawaan. Selain tidak memiliki sampling dan populasi yang jelas, polling online tersebut juga tidak pantas dilakukan karena sampai saat ini, belum ada kejelasan tentang bakal calon yang akan maju pada Pilkada Ngada selain beberapa tokoh yang sudah tampil melalui blusukan dan politik pencitraan.

Ia menduga, polling online tersebut antara dimaksudkan untuk menggiring opini publik, atau dijadikan sebagai portofolio atau proposal permohonan untuk mendapat kendaraan partai, mengingat beberapa nama yang dicatut didalamnya belum memiliki kendaraan partai sama sekali.

“Dari sisi teori agenda setting, kita bisa melihat bahwa kalau bukan untuk mendapatkan atensi publik di Ngada, polling hasil polling yang cacat tersebut bisa saja disertakan dalam proposal permohonan ke ketua umum partai politik agar mendapat kendaraan politik,” jelasnya.

Selain itu, Emild juga menyatakan, polling online, jika digunakan sebagai cara untuk memperoleh kendaraan partai, maka hal tersebut sangat tidak elengan. Cara-cara seperti itu justru merusak rasionalitas publik.

“Kalau mau kelihatan elegan, undangkah lembaga survei independen yang sudah memiliki nama dan selalu taat pada metodologi survei. Jangan polling online atau pun lembaga survei abal-abal,” paparnya.

Emild pun menghimbau masyarakat Ngada agar cerdas dalam menyaring isu dominan yang muncul pada saat-saat menjelang Pilkada Ngada 2020. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat tidak dipengaruhi oleh muatan kepentingan pragmatis oknum-oknum tertentu.

“Masyarakat Ngada sekarang sudah cerdas. Tidak bisa dibodoh-bodohi dengan cara yang instan. Mereka sudah tahu, mana yang tulus membantu dan mana yang punya intensi mau cari untung,” pungkasnya.*