Pulau Flores telah ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi. Tujuan penetapan ini ialah untuk mengoptimalkan penggunaan energi panas bumi di Pulau Flores, baik sebagai sumber listrik maupun sumber energi non listrik. Demikian keterangan yang dirilis laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Selasa (4/7/2017).

Ketetapan itu telah disahkan oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan dalam Surat Keputusan Menteri ESDM nomor 2268 K/30/MEM/2017 tentang Penetapan Pulau Flores sebagai Pulau Panas Bumi pada tanggal 19 Juni 2017. Surat Keputusan tersebut didukung dengan telah disusunnya peta jalan (road map) Pulau Flores sebagai Pulau Panas Bumi hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Inggris.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana menjelaskan, salah satu dasar penetapan pulau Flores di Nusa Tenggara Timur sebagai Pulau Panas Bumi dikarenakan pulau ini memiliki potensi energi panas bumi yang cukup besar dan diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi di wilayah timur Indonesia.

Pulau Flores memiliki potensi panas bumi sebesar total 902 MW atau 65% dari potensi panas bumi di provinsi Nusa Tenggara Timur dan tersebar di 16 titik potensi yaitu di Waisano, Ulumbu, Wai Pesi, Gou-Inelika, Mengeruda, Mataloko, Komandaru, Ndetusoko, Sokoria, Jopu, lesugolo, Oka Ile Ange, Atedai, Bukapiting, Roma-Ujelewung dan Oyang Barang.

“Hingga saat ini, baru Ulumbu dan Mataloko yang sudah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang sebesar 12,5 MW,” kata Rida.

Rida mengungkapkan, dengan ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi, ditargetkan pemenuhan kebutuhan listrik dasar (baseload) utama di pulau Flores berasal dari energi panas bumi pada tahun 2025.

Direktur Panas Bumi, Yunus Saefulhak menambahkan, pengembangan panas bumi di Flores dapat diintegrasikan dengan sektor hilir seperti industri semen, smelter, perikanan, perkebunan dan pariwisata agar potensi yang besar tersebut dapat dimaksimalkan mengingat saat ini kebutuhan listrik di Pulau Flores hanya untuk konsumsi rumah tangga.

Yunus menyebutkan, pulau Flores di Nusa Tenggara Timur memiliki potensi sumber daya alam berupa hasil-hasil perkebunan, perikanan dan pertambangan serta sektor pariwisata yang dapat dikelola dengan memanfaatkan energi panas bumi.

“Ke depan, pemerintah akan memprioritaskan penggunaan Geothermal Fund untuk mengeksplorasi lebih detil potensi panas bumi di Pulau Flores” terang Yunus.*