JAKARTA, FLORESPOS.ID Dewan Kesenian Manggarai Barat dengan sempurna mempersembahkan pentas musik tradisi Ndundundake di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (11/9) malam.

Pertunjukan ini merupakan salah satu rangkaian dalam acara Etno Musik Festival yang diprakarsai Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sepanjang 8-12 September 2019.

Festival musik tradisi ini digagas kembali untuk pertama kalinya setelah vakum hampir 40-an tahun, dengan terakhir diadakan pada tahun 1980-an melalui event Pekan Musik dan Tari.

Pentas Ndundundake, tarian khas perempuan Manggarai ini dibawakan oleh enam perempuan beda generasi asal Manggarai Barat. Mereka adalah Andi Tenrilebbi, Novia Mariana, Angelina Ayuni Praise, Hesti Nona Palalangan, Meliana dan Rotua Magdalena.

Para penari Ndundundake dalam Etno Musik Festival 2019. Foto: Eva Tobing/DKJ.
Para penari Ndundundake dalam Etno Musik Festival 2019. Foto: Eva Tobing/DKJ.

Pentas ini dimulai dengan pekikan-pekikan lantang oleh Andi Tenrilebbi. Komposer musik itu melantunkan syair-syair adat khas masyarakat Manggarai. Syair-syair itu lebih merupakan sebuah nyanyian yang ditarik-tarik, baik ritme maupun intonasinya.

Sekilas, nyanyian adat itu terdengar sendu, seperti arti kata-kata yang terkandung di dalamnya. Sambil terus bertutur, masuklah beberapa penari.

Penutur Andi Tenrilebbi dengan lantang melantunkan sastra lisan Ndundundake. Foto: Eva Tobing/DKJ.
Penutur Andi Tenrilebbi dengan lantang melantunkan sastra lisan Ndundundake. Foto: Eva Tobing/DKJ.

Mula-mula dua penari (Novia Mariana dan Angelina Ayuni Praise) yang memperagakan gerakan yang sama, Ndundundake. Keduanya masuk melalui sisi kanan panggung. Lalu beranjak ke tengah panggung sambil terus berlenggak-lenggok.

Kemudian dua penari lainnya (Hesti Nona Palalangan dan Meliana) menyusul setelah beberapa jeda waktu. Keduanya mengikuti gerakan yang sama dibuat Novi dan Yuni.

Mereka terus menari-nari mengiringi lantunan syair yang dituturkan secara bersahut-sahutan oleh Andi Tenrilebbi (komposer) dan Rotua Magdalena.

Di akhir pentas, Andi Tenrilebbi dan Rotua Magdalena bergabung dengan keempat penari membentuk formasi lingkaran (dalam bahasa Manggarai disebut “lingko”, artinya berjejaring) sambil mendendangkan tembang tradisional Manggarai yang sudah sangat populer, “Benggong”.

Seraya terus melantunkan lagu, mereka berjejer berdua-dua ke sisi kiri panggung, menandai berakhirnya pementasan Ndundundake. Seiring dengan hilangnya punggung mereka, dentangan “Benggong” pun perlahan menghilang. Lampu mati, lalu terdengar tepukan meriah dari tribun penonton.

Noviana Mariana. Foto: Eva Tobing/DKJ.
Noviana Mariana. Foto: Eva Tobing/DKJ.

Kematangan Perempuan

Tidak banyak penonton yang memenuhi tribun pertunjukan memahami arti syair-mantra adat itu. Tetapi lebih membiarkan lantunan itu bergema di gedung pertunjukan.

Komposer dan musisi dari Dewan Kesenian Mabar Andi Tenrilebbi menuturkan, nyanyian adat itu merupakan sebuah sastra lisan yang berkisah tentang kesiapan seorang gadis yang hendak dipinang oleh seorang laki-laki.

“Ini sebentuk sastra lisan yang berkisah tentang seorang gadis Labuan Bajo yang mau dipinang sama laki-laki,” ungkapnya seusai pementasan.

Seperti halnya dengan makna tarian Ndundundake, dengan kata “ndundun” berarti “perempuan yang menari dan diiringi irama gendang dan kata “dake” berarti seruan atau hentakan, tuturan lisan itu ingin menunjukkan kematangan subjektivitas dan identitas perempuan Manggarai di ranah sosial dan budaya.

Meski kemudian identitasnya terbentuk dalam sebuah kontinuitas “perjalanan” atau proses, tapi setidaknya ia telah mengalami masa di mana ia merasa cukup siap untuk terjun ke proses kehidupannya yang baru, yaitu keluarga.

Penari asal Manggarai pada Festival Budaya Manggarai di TMII Jakarta. Foto: florespos.id
Penari asal Manggarai pada Festival Budaya Manggarai di TMII Jakarta. Foto: florespos.id

Menurut Andi, dalam pementasan ini, mereka lebih mengeksplorasi kekuatan konsep-konsep bertutur, sehingga iringan musik tradisi semisal Gong dan Gendang tidak lagi menjadi dominan.

Sebagaimana diketahui, Ndundundake berkisah tentang perempuan dari sebuah Kecamatan Cibal, Manggarai. Di mana pada suatu masa, Cibal menjadi salah satu wilayah kerajaan di Manggarai, NTT.

Dalam perkembangannya, musik-tari ini menyebar ke hampir seluruh wilayah Manggarai, termasuk Manggarai Barat, dan menjadi salah satu tari populer yang biasa dipentaskan pada saat upacara penyambutan tamu.*