JAKARTA, FLORESPOS.ID – Pemerintah Indonesia memastikan telah mendapatkan kesepakatan dengan perusahaan Singapura, Changi Singapura, untuk mengelola Bandara Komodo Labuan Bajo, di Manggarai Barat, NTT.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, inisiatif kerjasama dengan Singapura dilakukan terkait pendanaan proyek infrastruktur transportasi, termasuk Bandara Labuan Bajo dan proyek Kereta Api Makassar-Parepare.

“Berkaitan dengan Bandara Labuan Bajo, memang sedang dilakukan finalisasi kerja sama dengan Changi Singapura. Jika ini berhasil, maka ini menjadi satu hal yang baik dan diharapkan semakin meningkatkan pelayanan bandara di daerah yang menjadi destinasi wisata prioritas yang tengah dikembangkan pemerintah,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Rabu (9/10).

Menurutnya, kerja sama itu akan dilakukan melalui skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU).

Selain itu, pemerintah juga bakal mendorong sektor swasta kedua negara untuk melakukan pertemuan Business To Business (B-to-B) untuk melakukan inisiatif-inisiatif kerja sama proyek-proyek unsolicited (proyek yang diprakarasi Badan Usaha).

“Kami terus berdiskusi dengan Menteri Perhubungan Singapura terkait dengan inisiatif-inisiatif kerja sama di sektor transportasi,” katanyai.

Tengah pekan ini, pemerintah secara resmi akan mengumumkan perusahaan atau konsorsium pemenang pengelola Bandara Komodo Labuan Bajo tersebut.

Untuk Daya Tarik Wisatawan

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla sendiri menyatakan pengelolaan bandara melibatkan perusahaan asing akan membawa banyak keuntungan, termasuk mendatangkan banyak wisatawan.

Sementara, Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menyebut, pelibatan asing dalam pengelolaan bandara sudah biasa terjadi.

“Biasa aja, memang harus sudah begitu, saya rasa di situ pola kompetisi terjadi bagaimana membawa kebaikan di masing-masing layanan di bandara sehingga bisa memuaskan pelanggan,” ujarnya di Tangerang, Rabu (09/10).

Menurutnya, saat ini pengembangan bisnis harus fokus ke service based competition,atau berlomba-lomba memberi layanan yang terbaik demi pelanggan. Percuma jika infrastruktur hebat namun pelayanan lemah, karena tentu tidak akan diterima pelanggan.

Awaluddin mencontohkan, kerjasama dengan Astra Digital dalam menyediakan layanan digital untuk mobilisasi pelanggan dari dan ke bandara merupakan contoh service based competition.

“Contohnya, sekarang kami meningkatkan customer experience dengan bekerja sama dengan Astra Digital. Jadi orang tidak perlu repot-repot cari tempat parkir untuk mobil tinggal pakai CariParkir, tidak perlu repot cari bus tinggal pakai Sejalan dan Movic,” ungkapnya.

Sumber: Kompas.com, Liputan6.com