MAUMERE, FLORESPOS.ID Data kasus positif virus corona antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pemerintah pusat masih berbeda sampai hari ini.

Pemprov NTT melaporkan pada Rabu (20/5) pagi bahwa kasus baru tercatat sebanyak 3 kasus, sehingga total menjadi 79 kasus. Dari jumlah tersebut, ada 1 pasien meninggal dunia dan 6 pasien lainnya telah dinyatakan sembuh.

Tiga kasus baru diperoleh dari hasil pemeriksaan swab di RSUD WZ Yohannes Kupang, di mana 2 orang pasien berasal dari Kabupaten Ende dan lainnya berasal dari Kab. Sikka.

“Untuk satu yang dari Sikka, belum diketahui dari klaster mana. Jika itu merupakan kelanjutan dari hasil yang diumumkan kemarin maka kemungkinan dia dari klaster Gowa,” kata Dominggus Mere, Kepala Dinas Kesehatan NTT, mengutip Kumparan.com.

Namun dari laporan Juru Bicara Achmad Yurianto pada Rabu sore, diketahui bahwa NTT masih menderita 76 kasus, naik 5 kasus dari Selasa sebanyak 71 kasus.

Perbedaan tiga kasus tersebut apakah karena pemerintah pusat belum memasukkan data 3 kasus baru yang dilaporkan Pemprov NTT belum diketahui.

Sementara laporan kasus dari seluruh Indonesia tiap hari ditutup pada pukul 12.00 WIB.

Sejak Pemprov mengumumkan kasus positif pertama, selisih tersebut belum diperbaiki, sehingga menimbulkan kebingungan masyarakat.

Hal yang sama terjadi dengan data kasus Pemprov DKI Jakarta. Sejak pertama kali diumumkan, hingga hari ini, ada perbedaan besar antara kedua otoritas/lembaga.

Pemerintah pusat melaporkan pada Rabu sore, ada 6.236 kasus di DKI Jakarta, bertambah 81 kasus dari sebelumnya ada 6.155 kasus.

Sementara data dari situs resmi Pemprov DKI Jakarta (corona.jakarta.go.id), menunjukkan bahwa ada 6.150 kasus di Jakarta, bertambah 97 kasus dari sebelumya ada 6.053 kasus.

Dari kedua data ini terlihat bahwa ada perbedaan 86 kasus untuk keseluruhan dan 16 kasus untuk harian.

Perbedaan data ini tidak hanya terjadi di dua provinsi, tapi juga terjadi di Provinsi Jawa Barat, di mana ada beberapa kabupaten yang berbeda data dengan Pemprov.

Jika ditelusuri satu per satu, maka akan terungkap betapa kesenjangan data mendorong kebingungan untuk menentukan kapan pandemi ini akan berakhir.

Beberapa waktu jurnalis Detik.com sudah menghubungi otoritas pusat untuk mempertanggungjawabkan permasalahan tersebut.

Namun sampai sekarang, belum ada jawaban mengenai benang kusut yang kerap memicu ketegangan antara kedua lembaga pemerintah tentang klaim kebenaran data.*