Dampak langsung dari penyelenggaraan sport tourism seperti Tour de Flores (TdF), tidak bisa dilihat hanya dalam hitungan hari. Hal itu diungkapkan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, saat meresmikan peluncuran ajang Tour de Flores 2017 di Balairung Soesilo Soedarman, Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu (5/7/2017).

“Kalau dampak langsung tidak besar, hanya 10 persen. Tetapi 90 persen ada di media value-nya,” jelas Yahya sebagaimana dikutip beritasatu.com.

Yahya mengakui, dampak langsung dari penyengggaraan ajang balap sepeda internasional ini kepada rakyat memang agak sulit dijelaskan. Namun, publikasi yang besar terhadap acara ini akan bermanfaat bagi pariwisata manfaat acara ini untuk Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Flores.

“Tetapi setelah satu tahun, terbukti bahwa kunjungan wisatawan baik wisman maupun wisnus naik 100 persen. Jadi dampaknya memang tinggi,” tuturnya.

Yahya memaparkan, penyelenggaraan event TdF 2017 akan lebih menarik, dengan adanya lomba foto instagram dan swafoto. Tidak hanya itu, lanjutnya, akan ada kegiatan Sejuta Cangkir Kopi Flores yang bakal dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Yahya menjelaskan, tidak ada persoalan dalam penyelenggaraan TdF 2017. Meski demikian, terkait adanya penolakan dan seruan boikot di media sosial, ia mengajak semua kalangan agar berpikir maju.

“Seluruh Indonesia menginginkan punya tour, seperti Tour de SingkarakTour de Ijen. Bahkan orang Kuningan mati-matian membuat Tour de Linggarjati. Dan tidak pernah mendengar satu bupati pun menolak daerahnya untuk dijadikan lokasi tour. Saya ingin mengajak semua orang untuk outward looking, karena ini media value-nya sangat tinggi,” ujar Yahya.

Simak video peluncuran Tour de Flores 2017 berikut ini: