JAKARTA, FLORESPOS.ID – Literasi pegawai pemerintah penting digalakan untuk meningkatkan kinerja dan secara tidak langsung akan mempercepat proses transformasi kelembagaan di pemerintahan.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dalam kerangka tersebut, menyelenggarakan Festival Literasi 2019 bertajuk “Literasi Lintas Generasi” untuk memupuk budaya literasi dan membentuk diri pegawai yang inovatif, kreatif, kristis dan produktif.

Acara hari ini merupakan rangkaian Festival Literasi Perpustakaan Kementerian Keuangan 2019 yang berlangsung sejak Senin (30/9) hingga Jumat (4/10).

“Kebiasaan membaca masih perlu kita pupuk. Event-event seperti ini yang kita coba lakukan di Kemenkeu. Bukan event yang spektakular, tapi gesture kita untuk memompa semangat dan menyebarkan semangat literasi,” ungkap Menkeu Sri Mulyani Indrawati di Aula Dhanapala, Kemenkeu, Jakarta, Rabu (2/10).

Literasi Kolaboratif

Tahun ini merupakan festival literasi kolaboratif yang pertama kalinya melibatkan perpustakaan dan kehumasan unit Eselon 1 di Kemenkeu.

Antara lain dari Perpustakaan dan Humas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Perpustakaan dan Humas Direktorat Jenderal Anggaran (DJA), Perpustakaan dan Humas Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), dan Perpustakaan dan Humas Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK).

Jadi Oase Kehidupan

Pada sesi bincang buku, peserta membahas kisah Mantan Presiden Indonesia B.J. Habibie, bersama Reza Rahadian dan Manoj Punjabi.

Menkeu pun mendukung event yang menjadi agenda tahunan ini. Seperti halnya Habibie, ia melihat aktivitas membaca adalah oase bagi kehidupan.

“Seperti Bung Hatta, wakil presiden pertama Indonesia, waktu beliau dikucilkan, dia bawa koper yang isinya buku. Jadi, anda bisa memenjarakan fisik saya, tapi tidak pikiran saya. Buku adalah jendela dunia. Itulah kekuatan dari literasi,” ungkap mantan Direktur Bank Dunia itu.

Menkeu Sri Mulyani berharap, acara ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya para pegawai Kemenkeu.

Ia pun meminta generasi muda, utamanya generasi milenial, harus dapat menjawab tantangan ketersediaan informasi yang berlimpah, namun tetap berkualitas baik bagi diri sendiri.

“Informasi yang ada sangat banyak, tetapi masyarakat malah jadi lebih narrow dan shallow.Generasi milenial, anda memiliki tantangan yang tidak mudah, bagaimana melawan arus yang penuh ironi. Bagaimana anda bisa menjadi sosok yang punya wisdom, pada saat banjir informasi seperti saat ini,” paparnya.*