Bandung, Florespos.id – Gunung Tangkuban Parahu di Bandung, Jawa Barat, pada sekitar pukul 15.48 WIB meletus dan memuntahkan kolom abu vulkanik dengan tinggi kolom abu sekitar 200 meter di atas atau tepatnya di 2.284 meter di atas permukaan laut.

Menurut data dari situs Kementrian ESDM, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm dan durasi kurang lebih 5 menit 30 detik.

Sementara itu, Kepala menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani mengatakan, abu vulkanik abu-abu tebal menyebar ke selatan dan timur laut. Saat ini, Gunung Tangkuban Parahu berada pada Status Level I (Normal).

Otoritas meminta masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan turun mendekati dasar kawah Ratu dan Kawah Upas dan tidak boleh menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks G. Tangkuban Parahu, serta ketika cuaca mendung dan hujan dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Selain itu, masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Tangkuban Parahu juga dihimbau agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Badan Geologi Dr. Hendra Gunawan menjelaskan, tipikal erupsi G. Tangkuban Parahu adalah freatik berupa semburan lumpur dingin warna hitam dari Kawah Ratu.

Sebelumnya terjadi pada Oktober 2013 dengan landaan erupsi hanya di dalam lubang kawah. Sejak tahun 2017-2019 pada bulan Juni-juli terpantau gempa uap air/asap yg diduga disebabkan berkurangnya air tanah akibat perubahan musim, sehingga air tanah yg ada mudah terpanaskan, dan sifatnya erupsi pendek.

Oleh karenanya sejak 10 hari yg lalu PVMBG melalui Pos Pengamatan menyampaikan peringatan, kepada pengelola kawasan untuk meningkatkan kesiapsiagaan kemungkinan erupsi spt Oktober 2013, dan diikuti surat peringatan kemungkinan bisa erupsi tiba tiba.

Hendra menambahkan, radius aman erupsi, seperti halnya freatik pada Oktober 2013 adalah tidak mendekat kawah atau kurang lebih 500 m (radius bibir kawah 400 m).

Hendra pun menandaskan, erupsi susulan dapat saja terjadi dengan potensi landaan masih di sekitar dasar kawah, namun tetap dasar utama yg menentukan adalah data yang terekam saat ini.

“Karena dasar dari peningkatan status adalah tingkat ancaman, dan saat ini tingkat ancaman masih di dalam kawah, sehingga belum perlu naik status, kecuali kedepannya ada potensi radius landaan yang membesar,” katanya.

Sehari sebelumnya, PVMBG mengeluarkan pernyataan jika aktivitas vulkanik gunung Tangkuban Parahu meningkat dari biasanya.

Berdasarkan rekaman seismograf, pada 21 Juli 2019 dari pukul 00.00-24.00 WIB terjadi 425 gempa hembusan, 2 kali gempa tremor harmonik, 3 kali gempa low frequency, 3 kali gempa vulkanik dalam dan 3 kali gempa tektonik jauh.

Sementara dari pengamatan visual 22 Juli 2019 pukul 06.00 WIB, hasilnya menunjukkan adanya asap dari kawah utama bertekanan lemah-sedang teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara dan selatan.*