JAKARTA, FLORESPOS.ID – Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1998-2006) Prof. Dr. Azyumardi Azra hadir sebagai keynote speaker dalam simposium internasional ketiga menjelang perayaan puncak 50 Tahun berdiri Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Maumere.

Simposium ini bertempat di Aula Santo Thomas Aquinas STFK Ledalero Maumere, dan dimoderatori P. Ferdinandus Sebho, SVD, pada Jumat (6/9).

Sebagai intelektual Muslim yang selalu mengedepankan perspektif Islam progresif, Azra berbicara soal revitalisasi wawasan kebangsaan.

Menurut Azra, Indonsia dalam konteks global dikenal sebagai salah satu dari sedikit negara yang menjunjung tinggi kemajemukan. Realitas ini menjadi salah satu potensi yang membuat banyak negara memuji Indonesia.

Namun, akhir-akhir ini, ada segelintir orang yang mengorganisasikan diri dalam sebuah kelompok radikal dan mencoba menggugat dan menolak kemajemukan di Indonesia. Ada usaha untuk melakukan penyeragaman (homogenisasi) dan dengan itu menolak prinsip Bhineka Tunggal Ika.

Selain itu, ada pula upaya untuk membentuk sebuah negara khilafah yaitu satu entitas politik tunggal bagi seluruh umat Islam yang ada di seluruh dunia.

“Ada juga usaha untuk mendirikan daulah Islamiah atau negara Islam,” katanya.

Menurut Azra, hal itu disebabkan oleh minimnya wawasan kebangsaan. Karena itu, upaya revitalisasi wawasan kebangsaan adalah sebuah kebutuhan yang urgen.

“Kita perlu menghidupkan kembali wawasan kebangsaan yang bisa menjadi awal yang baik bagi terciptanya harmonisasi dan toleransi dalam kehidupan bersama yang ditandai oleh keberagaman,” paparnya.

Dalam pandangannya, Pancasila adalah berkat bagi Indonesia karena dia bisa merangkul kemajemukan. Sila pertama dalam Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa sanggup menjadi perekat yang mempersatukan dan mengharmoniskan semua pemeluk agama yang berbeda satu dengan yang lain.

Menurut Azra, sila pertama itu harus menjadi alasan utama untuk membendung ego pemeluk agama tertentu untuk mengklaim bahwa Tuhan dan agama mereka sajalah yang benar, sedangkan pemeluk agama lain dipandang sebagai orang kafir yang mesti segera ditobatkan dengan cara pemaksaan menjadi pemeluk agama mereka.

“Beragama itu adalah urusan kesukarelaan yang didasarkan pada suara hati nurani pribadi dan bukan perkara paksaan. Orang yang dipaksa atau secara terpaksa memeluk sebuah agama tertentu sebenarnya adalah pemeluk agama asal-asalan,” tandasnya.*