Jakarta, Florespos.id – Presiden Asian Development Bank (ADB) Takehiko Nakao memuji manajemen fiskal dan makroekonomi Indonesia yang baik sejak 2018. Hal itu tampak dari fundamental ekonomi Indonesia solid.

Sebagaimana nampak dari tingkat pertumbuhan produk domestik nasional yang kuat sebesar 5,2% di 2018, tingkat inflasi yang terkendali sebesar 3,2%, manajemen fiskal yang hati-hati, dan cadangan devisa yang sehat.

Hal itu disampaikan Nakao dalam kesempatan pertemuan dengan Presi
den Joko Widodo (Jokowi) di sela-sela KTT Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) ke-34 di Bangkok, Thailand, Minggu (23/6).

Pada kesempatan itu, Nakao menyampaikan dukungan ADB terhadap reformasi struktural Indonesia untuk manajemen sektor publik, sektor finansial, sektor energi, dan iklim investasi melalui pinjaman berbasis kebijakan.

Selain pinjaman sektor publik, operasi sektor swasta ADB memberikan pinjaman bagi berbagai proyek swasta di sektor strategis seperti energi panas bumi.

“Agenda reformasi Indonesia amatlah esensial untuk dapat mencapai pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan, serta kesejahteraan bersama,” ujar Nakao.

Nakao pun menyampaikan dukungan ADB yang komprehensif berupa paket tanggap darurat senilai US$800 juta pascabencana alam di Sulawesi Tengah dan Lombok pada 2018.

ADB sebelumnya telah berkomitmen untuk memberikan bantuan secepatnya saat Nakao bertemu Presiden Jokowi pada 12 Oktober 2018 di pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali.

Fase pertama dukungan tersebut, yaitu senilai US$500 juta untuk membiayai keperluan rehabilitasi sesegera mungkin, telah disetujui ADB pada 20 November 2018, atau kurang dari 7 minggu setelah gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Fase kedua sebesar US$300 juta yang akan dipertimbangkan oleh Dewan Direktur ADB pada 26 Juni 2019 akan mendukung rekonstruksi sarana irigasi, sistem pasokan air dan sanitasi, sebuah universitas, serta pelabuhan dan bandara.

“ADB menyambut baik fokus Presiden Joko Widodo terhadap pembangunan sumber daya manusia, dan infrastruktur seperti pasokan air, sanitasi, energi dan transportasi,” ungkap Nakao.

Pinjaman rutin ADB untuk sektor publik ke Indonesia, yang terus tumbuh pada tahun-tahun terakhir, diperkirakan akan mencapai US$2,9 milyar pada 2019. ADB membiayai investasi di sektor energi, pengembangan sumber daya manusia, irigasi dan pembangunan area perbatasan, baik melalui pinjaman proyek maupun pinjaman berbasis hasil.

Di akhir pertemuan itu, Nakao menegaskan, pengembangkan keahlian tenaga kerja Indonesia, beserta sistem proteksi sosial yang memadai, menjadi hal penting untuk menjadikan Indonesia ekonomi yang kian modern dan berorientasi pada jasa.*