LABUAN BAJO, FLORESPOS.ID – Tiga puluh penumpang asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telantar di Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Hal itu terjadi setelah Pemporv NTT memberlakukan pelarangan penerbangan dan pelayaran kapal laut dalam merespon kebijakan pemerintah pusat awal pekan ini untuk menekan penyebaran dan penularan virus Corona (Covid-19).

Dengan pelarangan ini, maka banyak orang yang melakukan perjalanan, ataupun yang sedang melakukan perjalanan tidak bisa melanjutkan perjalanan mereka.

Walhasil, 30 orang warga yang mayoritas berasal dari Pulau Flores ini harus telantar di Pelabuhan Sape sejak Kamis (24/4) lalu. Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan ke kampung halaman masing-masing.

Karena tak punya keluarga di sekitar Sape, mereka pun tidur di terminal pelabuhan beralaskan lantai. Lebih dari 3 malam udara malam menggerogoti tubuh mereka.

Mayoritas dari Manggarai

Dalam keterangan yang diperoleh dari Florianus Pangkal, salah satu dari antara mereka, diketahui bahwa kebanyakan dari mereka berasal dari kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Dua diantaranya masing-masing dari Kab. Ngada dan Manggarai.

Warga asal Manggarai Timur itu menjelaskan, puluhan orang yang terlantar terdiri dari mayoritas mahasiswa dan sebagian lainnya adalah perantau.

Mereka berasal dari Bali, Bima, Mataram, Lombok Timur dan terjauh dari Sumatra dan ingin pulang ke daerah masing-masing melalui pelayaran Sape-Labuan Bajo.

Data itu diambil pada Sabtu (25/4) pagi. Sebelumnya, lebih dari 30 orang yang terlantar di Pelabuhan Sape, tapi sebagian lainnya memilih kembali ke Bima, dan sisanya menginap di rumah keluarga di sekitar Sape.

“Kalau kita di sini kebanyakan mahasiswa, kemudian ada yang kerja. Kita di sini sudah tiga hari, ada juga yang sudah empat hari,” katanya, Sabtu (25/4).

Tidak Tahu

Flori menerangkan, sebelumnya mereka tidak mengetahui kalau ada pelarangan pelayaran kapal laut. Ketika tiba di Sape, barulah mereka mendapatkan informasi dari pihak Pelni, bahwa pelayaran ditutup sementara.

“Informasi sebelumnya kami tidak tahu. Kami tahu itu (pelarangan) setelah kami sampai di Sape,” ujar pria asal Kecamatan Elar, Matim itu.

Di tengah ketidakpastian yang mereka alami, dia pun meminta Pemprov NTT tidak menutup mata. Karena, sejak Kamis lalu, pelayaran Sape-Labuan Bajo sudah dibuka. Terakhir, pelayaran ke Labuan Bajo terjadi pada Sabtu, pagi ini.

Namun, kata Flori, mereka masih belum diperbolehkan oleh manajemen Pelni untuk melakukan pelayaran ke Labuan Bajo.

“Harapan kami, Pemprov NTT dan juga semua Pemda, khususnya Pemda Manggarai Barat untuk mengambil kebijakan yang baik untuk kami para penumpang atau warga NTT yang ada di Sape (sekarang) ini,” ungkapnya.

Belum Diizinkan

Gelombang mudik perantau asal NTT dari Pulau Jawa sebenarnya sudah dimulai pada Kamis (16/4) lalu. Saat itu, 150 warga Sumba Timur berada di Pelabuhan Lembar, sisanya 50 warga asal Flores di Pelabuhan Sape, menurut laporan Kompas.id, Minggu (19/4).

Mereka kemudian diizinkan menyeberang oleh Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi dan pejabat Dinas Perhubungan NTT.

Namun pada gelombang kedua, setidaknya ada 58 perantau asal Sumba Timur dan Pulau Flores, telantar di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, dan Pelabuhan Sape, karena Pemprov NTT sudah melarang semua kapal dan feri mengangkut penumpang ke NTT.

Mereka saat ini ditampung di salah satu ruangan kantor sambil menunggu kepastian izin kepulangan dari Pemprov NTT.

Demikian dengan gelombang kepulangan para perantau selanjutnya, masih belum diizinkan pulang oleh Pemprov NTT untuk mencegah penularan Covid-19.

Namun dengan kembalinya NTT sebagai provinsi bebas Covid-19 setelah pasien 01 dinyatakan sembuh pada Jumat (24/4), diharapkan Pemprov NTT dapat melonggarkan kebijakan agar para perantau kembali ke kampung halaman masing-masing.

Untuk diketahui, biasanya warga NTT yang pulang ke Flores mengambil jalur darat dari Jawa ke Pelabuhan Padangbai, Bali, kemudian menumpang kapal ke Lombok dan Sape.

Sementara perantau asal Sumba Timur biasanya menumpang KM Legundi dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Lembar, lalu naik kapal Pelni ke Pulau Sumba.

Para perantau mudik karena mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) setelah perusahaannya tutup di Pulau Jawa. Sebelum kehabisan uang, mereka lebih baik mudik.*